Selasa, 28 Oktober 2014

Garis Lengkung



Bahasa selalu menuntunkan kita pada sebuah komunikasi. Dan komunikasi selalu ada disela-sela hubungan. Angin selalu merindukan dirinya sendiri. Berputar dan menghayati keberadaannya yang tak tampak. Menghempaskan sukma dan musyafirpun datang dan pergi. Namun alasan saya memilihnya karena isi hati membisikan kepada angin  dan mengalirkan kepada keterbatasan daun telinga. Bahwa dia ada karena saya memikirkannya. Melalang buana menyusuri busur pelangi yang melengkung sedih ditengah haru pikuk tangis yang berada. Mungkin mawar tak selamanya memiliki keromantisannya saat saya memberi dan mungkin coklat tak akan selayaknya mengendalikan emosi. Permata berlian intan istana dan mahar semahal apapun tak ternilai dirinya. Saat jatuh dan sadar bahwa saya cinta, bukan hanya sebatas cinta tetapi sayang. Bahkan lebih, mungkin kasih.
Saya memilih, mengejar, mendapatkan dengan usaha saya sendiri. Selayaknya kecoa yang masih hidup karena bom nuklir. Dimana semua umat kehidupan sudah mati tetapi spesiesnya akan menemukan hal yang sama, meski dalam artian lain. Kata-kata itu bukan hanya sebatas cinta. Pola perilaku itu tidak seluas sayang. Lekuk gesturnya bukan berarti kasih. Tetapi semua adalah kesatuan yang mungkin kita tidak tau darimana mereka berada. Kenapa ada?.