Bahasa selalu menuntunkan kita pada sebuah komunikasi. Dan
komunikasi selalu ada disela-sela hubungan. Angin selalu merindukan dirinya
sendiri. Berputar dan menghayati keberadaannya yang tak tampak. Menghempaskan
sukma dan musyafirpun datang dan pergi. Namun alasan saya memilihnya karena isi
hati membisikan kepada angin dan
mengalirkan kepada keterbatasan daun telinga. Bahwa dia ada karena saya
memikirkannya. Melalang buana menyusuri busur pelangi yang melengkung sedih
ditengah haru pikuk tangis yang berada. Mungkin mawar tak selamanya memiliki
keromantisannya saat saya memberi dan mungkin coklat tak akan selayaknya
mengendalikan emosi. Permata berlian intan istana dan mahar semahal apapun tak
ternilai dirinya. Saat jatuh dan sadar bahwa saya cinta, bukan hanya sebatas
cinta tetapi sayang. Bahkan lebih, mungkin kasih.
Saya memilih, mengejar, mendapatkan dengan usaha saya
sendiri. Selayaknya kecoa yang masih hidup karena bom nuklir. Dimana semua umat
kehidupan sudah mati tetapi spesiesnya akan menemukan hal yang sama, meski
dalam artian lain. Kata-kata itu bukan hanya sebatas cinta. Pola perilaku itu
tidak seluas sayang. Lekuk gesturnya bukan berarti kasih. Tetapi semua adalah
kesatuan yang mungkin kita tidak tau darimana mereka berada. Kenapa ada?.