Bahasa selalu menuntunkan kita pada sebuah komunikasi. Dan
komunikasi selalu ada disela-sela hubungan. Angin selalu merindukan dirinya
sendiri. Berputar dan menghayati keberadaannya yang tak tampak. Menghempaskan
sukma dan musyafirpun datang dan pergi. Namun alasan saya memilihnya karena isi
hati membisikan kepada angin dan
mengalirkan kepada keterbatasan daun telinga. Bahwa dia ada karena saya
memikirkannya. Melalang buana menyusuri busur pelangi yang melengkung sedih
ditengah haru pikuk tangis yang berada. Mungkin mawar tak selamanya memiliki
keromantisannya saat saya memberi dan mungkin coklat tak akan selayaknya
mengendalikan emosi. Permata berlian intan istana dan mahar semahal apapun tak
ternilai dirinya. Saat jatuh dan sadar bahwa saya cinta, bukan hanya sebatas
cinta tetapi sayang. Bahkan lebih, mungkin kasih.
Saya memilih, mengejar, mendapatkan dengan usaha saya
sendiri. Selayaknya kecoa yang masih hidup karena bom nuklir. Dimana semua umat
kehidupan sudah mati tetapi spesiesnya akan menemukan hal yang sama, meski
dalam artian lain. Kata-kata itu bukan hanya sebatas cinta. Pola perilaku itu
tidak seluas sayang. Lekuk gesturnya bukan berarti kasih. Tetapi semua adalah
kesatuan yang mungkin kita tidak tau darimana mereka berada. Kenapa ada?.
Ribuan bintang yang bersinar kita lebih memilih melihat
bulan. Saya sungguh dibuatnya terlena oleh kesyahduan dari mimik senyumnya.
Tipis. Indah. Saya memahat sedikit demi sedikit teksturnya dalam-dalam. Saya
simpan dalam gelap hingga malam tiba dan merindu. Entah seperti apa rasanya,
karena saya membutakan diri sendiri. Peluk hangatnya, halus tangannya, wangi
rambutnya, senyum lugunya. Tak pantas untuk dinodai. Bahkan oleh masalalunya
sekalipun. Dia harus tetap tersenyum. Membawa keindahan itu. Membaginya kepada
sesama. Saya termasuk kedalam sesama. Tawanya harus selalu ada. Tidak bisa
murung mengitarinya. Tidak akan resah mengitarinya. Dan tidak sekalipun gundah
memeluknya. Dia berbeda karena dia adalah dia. Menjadi diri sendiri dengan
caranya. Menjadi ada karena keberadaannya. Mempesonaku dalam alunan
senandungnya. Hujan menggenapi semuanya. Suaranya menciptakan elegi, simphony,
orkes, himne, dan bahkan suara dengungan tenggorokan. Saya ingin berjalan
kepadanya mengitari dunia. Bersama. Berdua saja. Menelaah maksud dalam pikiran
bahwa saya jatuh kedalam kasihnya. Iya betapa dia seperti cahaya disaat
meletakan kepalanya ke bahu saya. Seakan bebannya tersampaikan dan terbawa.
Seakan dia benar menjadi milik saya. Walaupun tidak seutuhnya.
Sebuah kesedarhanaan darinya yang menganatasikan diri saya
ini. Seakan diam dan memandanginya. Seakan cemburu tetapi dia bisa menjaga.
Seakan dahaga tetapi dibuatnya lega. Mungkin bukan sebuah keelokan dan
keglamoritasan yang membuat seseorang menjadi menarik, melainkan karena sebuah
kesederhanaan yang disampaikan lewat ciptaan Tuhan yang nyata. Yaitu dia.
Mungkin saja suatu saat kami bukan lah jodoh atau mungkin
suatu saat kami adalah jodoh. Tergantung Tuhan berkehendak dan tergantung saya
berkarya untuk mempertahankan sebuah pahatan yang timbul dalam sisi gelap ruang
hati saya. Sebuah pahatan garis senyumnya yang membuat saya terpesona. Sebuah
pahatan tentang konstruksi parasnya, yang sederhana. Pahatan tentang kesederhanaan.
Hanya kayu layu melayu. Hanya dia yang menjadi dirinya. Hanya dia yang memberikanku
semangat disaat pesimis menimpa karena terselimuti hipotermia. Hanya satu.
Hanya saja kenyataan yang paling nyata adalah kita ini tidak lah nyata. Entah
kelak dia akan dipinang oleh siapa. Entah kelak dia akan pergi kemana. Entah
kelak dia lupa dengan saya. Setidaknya saya pernah memahat senyumnya didalam
ruang gelap privasi saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar