Sabtu, 26 April 2014

Cinta Ala Sapi?

Kemarin selasa ada pelajaran filsafat manusia dan punya si Alifa membahas BAB tentang cinta. BAB bukan buang air besar. Iya memang manusia gak bakal bisa jauh dari cinta. Tapi apa sih cinta itu?. Gak peduli, saya gak mau bahas haha. Kemaren itu ada temen saya yang tanya ama kelompoknya dia tentang sapi. Pokoknya pertanyaannya itu kayaknya tentang membandingkan antara cinta sapi dan cinta manusia. Ya masak manusia disamain ama sapi. Tapi ya saya gak tau sih pertanyaannya tentang apa yang sebenarnya mengenai sapi. 


Terus besok jumatnya saya di ajak dia buat beli makan kura-kuranya. Intinya bukan keromantisan saya dan dia karena kami tidak romantis, halah. Kan waktu itu hujan, yaudah kami berteduh di pasco sekalian minum sebelum membeli makan kura-kuranya. Disini saya menanyakan tentang sapi itu sendiri. Maksutnya pertanyaan tentang sapi pas presentasi tadi. Lalu dia jawab bahwa pertanyaannya itu adalah kenapa sapi kalok bertemu pasangannya pada pertama kalinya berantem terus bisa mesrah-mesrahan (gimana coba bentuk sapi yang lagi mesrah-mesrahan) terus kenapa manusia pas pertama bertemu dimesrah-mesrahin terus lama kelamaan malah berantem?. Saya berfikir itu pertanyaan yang cukup baik. Tapi kenapa harus disamain sapi njirrr. 

Memang manusia seperti itu. Manusia gak punya yang namanya "puas". Abal-abal tentang romantis-romantisan diawal kenal menjadi hal yang mendasar bagi manusia untuk mendapatkan seseorang. Lalu saya juga berfikir mengenai diri saya sendiri. Saya PDKTin dia terus saya romantis-romantisin (romantis menurut saya, njijikin menurutnya) biar bisa dapetin dia. Tapi kalok sudah saya dapetin dia apakah saya masih bisa baikan terus sama dia bahkan mesrah gak henti-henti. Masih menjadi sebuah misteri.

Benar, sapi memang seperti itu. Sapi bertengkar dengan pasangannya dengan tujuan adaptasi. Jadi gini si sapi jantan itu tanya-tanya tentang kejelekan si sapi betina dan si sapi betina menjawab semua kejelekannya terus si sapi jantan ngetawain kejelekan sapi betina itu lha terus si sapi betina marah dan mereka berantem. Di saat berantem sapi betina tau semua kejelekannya si sapi jantan terus mereka saling mengetahui kejelekan mereka masing-masing. Akhirnya mereka saling mengerti atas kekurangan dirinya masing-masing, karena sapi adalah hewan dan hewan selalu bertingkah apa adanya maka mereka bercerita apa adanya tentang dirinya sendiri-sendiri. Setelah mereka tau keburukan satu sama lainnya merekapun saling mengerti dan menerima kekurangannya lalu melengkapinya dan akhirnya mereka hidup bahagia setelah awalnya berantem terus menerus. Gitu ceritanya.

Berbeda dengan manusia. Saat bertemu mereka saling terkesima karena luarnya yang indah (yang sering terkesima duluan adalah cowoknya biasanya). Mereka saling berkenalan dan biasanya cowok dulu yang ngajak kenalan. Saling bercerita tentang kelebihannya. Dan sok-sokan pakek bahasa gaul atau lagi ngerti trend gitu. Coba bayangkan jika kalian yang cowok sok-sokan ngaku sebagai gitaris terus ndeketin cewek yang ternyata juga gitaris, malah gitaris sungguhan. Bayangkan!
"Gue punya band lho, dan gue megang gitar"
"Apa iya? keren banget? merek gitar yang lu sukain apa?"
"Ohh.....(terdiam dan melihat sekitar) Open Recuitment, itu gitar keren"
"Oh, Kalok gue sih ibanez, dan merek elu itu ada di pocok papan sana kan?"
Bayangkan jika seperti itu. Ehh tapi kayaknya melenceng dari topik deh. Yaudah gakpapa. Gini jadi setiap pertama ketemu itu pengennya nunjukin yan baik-baik saja, nutupin kejelekan, dan gak pernah bertingkah apa adanya. Kan sejelek-jeleknya orang jelek pasti ada kulitnya juga kan. Pribahasa apa ini!!. Maksutnya jika kita menutupin kejelekan kita tetep cepat lambat pasti ketahuan juga. Jadi yang pertamanya bilang bahwa dirinya orang keturunan jerman lama kelamaan pasti ketahuan kalok dia orang jawa, soalnya makan pakek tangan tanpa sendok dan gak table manners, terus seleranya sama nasi pecel. Aduh apa sih.

Intinya dari semua ini adalah mengapa kita harus menutupi kejelekan kita. Kita bisa kok berbuat apa adanya kepada orang yang kita sukai. Iya, dan saya akan berusaha bersikap apa adanya kepada dia agar dia tau diri saya dan dapat menerima saya (semoga sih hahah). Yang penting apa adanya, kayak cinta ala sapi gitu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar