Wahai pemuda Indonesia. Yang sudah dirasuki oleh roh-roh telenovela, yang sudah diperdaya oleh acara FTV, yang sudah dipaksa Alay oleh acara musik pagi. Bangun lah dan sadar lah, bahwa kalian itu seperti saya, njirrr.
Disini saya akan bercerita tentang kebiasaan saya pada saat hari sabtu mulai mengelap. Disudut kota banyak sekali pasangan-pasangan yang bermesrah-mesrahan. Pegangan tangan, pangku-pangkuan, suap-suapan, sampek saling bunuh pun terjadi, haha yang terakhir egak.
Saya hanya ingin berbagi pengalaman saya, iya pengalaman tragis dari diri saya. Saya deket sama cewek, syukur cewek biasanya sih cowok, halah. Udah berbulan-bulan saya PDKTin dia, padahal cuma baru satu bulan. Udah ratusan kata "kamu mau gak jadi pacarku?" terlontar, dan hanya dijawab dengan gelengan kepala beserta rambut yang mendayu dengan tariannya diiringi kutu dan ketombe yang bertebaran.
Dia temen kuliah saya. Saya sering bersama dengan dia hanya saat hari senin dan rabu karena pada hari itu saya mengajar di Solo Mengajar bersama dia. Bayang kan, manusia sehina saya dengan bentuk setengah monster luar angkasa ini menjadi guru bagi murid-murid yang lugu dan belum mengenal dosa, bayangkan!. Haha tapi semua itu malah kebalikan. Saya yang serupa monster ini tetep kalah dengan murid-murid saya, mereka sangat lah liar dan gaduh sekali seakan-akan mereka itu jelmaan babi hutan. Mungkin mereka itu adalah manusia setengah predator. Yang saya takutkan adalah pada saat saya mengajar tiba-tiba murid-murid saya pada menerkam saya dan mencabik-cabik daging saya lalu dimakan, otak saya di jilatin dan mata saya dipaksa keluar untuk dimakan rame-rame. Jijik ya? ternyata saya juga pandai menulis cerita horor, halah.
Pada saat mengajar kami selalu disibukan dengan tingkah aneh para murid-murid kami. Dari yang berteriak sambil lari-lari atau yang lari-lari sambil berteriak, itu sama aja sih. Ada juga yang tiba-tiba joget sambil mlorotin celana, seakan-akan sempak tuh bocah yang paling bagus buat nyaingin sempak saya, iya, karena sempak saya bergambar dinosaurus sedangkan sempaknya bergambar ultraman. Sempak saya kalah saing.
Walaupun terkesan seperti mengajar anak-anak dinosurus karnivora yang sedang kelaparan, tapi mereka asik semua. Bisa menimbulkan tawa didalam wajah diri saya dan dia, apa lagi kalok melihat dirinya tertawa, wuuuh hati ini seakan-akan dipenuhi dengan darah. Memang. Denga setrategi saya, saya mengajar mereka dengan cara bermain, dari abc 5 jari sampai petak umpet. Kadang-kadang pas petak umpet anaknya ada yang hilang gegara diculik sama gendruwo. Ada yang suka curhat dengan saya, ada juga yang suka menghina saya dengan menyamakan wajah saya dengan alien. Banyolan itu lah yang membuat dia tertawa. Saya senang walaupun saya terhina. Memang saya hina, njirrr.
Tradisi saya sehabis mengajar anak-anak siluman tersebut adalah pergi makan bersama dia. Sebenernya saya selalu makan dulu sebelum berangkat mengajar. Tapi apa daya, energy saya habis untuk menghadapi bocah-bocah tersebut. Yaudah kami sering makan di burjo. Kenapa kami memilih tempat itu. Karena tempat itu murah makanannya dan kami selalu menggunakan tradisi Bayar Sendiri-sendiri. Itu sebabnya saya suka dengan dia. Tidak matre dan tidak sesama jenis. Walaupun tubuhnya sedikit lebih maco daripada saya.
Disana kami sering makan sambil becanda-becanda gitu, kadang gak sengaja sampek nelen sendok saya. Itu hiperbola. Saya tertarik dengan hidungnya, dengan modus saya. Saya sering mencubit ringan hidungnya dengan alasan "hidung kamu aneh" padahal semua itu hanya konspirasi saya untuk modusin dia gitu. Disana kami sering ejek-ejekan, saya ngejekin hidungnya sedangkan dia menghina tailalat saya. Yang kata ibu kantin SMA saya mirip sama tailalat Rono Karno. Ya tak apalah. Pas lagi panas-panasnya kami juga sering lempar-lemparan kursi sampai ada pembeli yang kena lemparan dia terus pingsan. Itu tidak nyata men haha. Setelah hal bahagia itu saya harus dihadapkan dengan hal yang namanya "Mulangin Dia Sekarang". Itu tradisi buat mengakhiri hari bahagia saya bersama dia, iya bahagia saya bukan dia. Dan setiap sampai gerbang kosnya saya selalu menanyakan hal yang sama setiap saatnya, yaitu "Sekarang udah mau jadi pacarku?". Dan jawabannya pasti, iyaa. Iya dia menolak saya untuk kesekian kalinya. Aduh saya sial.
Dan hari sabtu pun selalu tiba, dan setiap sabtu malam dia selalu latihan karawitan. Cewek yang suka budaya sendiri adalah cewek pilihan bangsa dan pilihan lelaki, apaan. Saya gak mungkin ngajak dia maen pas hari sabtu malam tersebut. Dan saya pun bosan jika harus dirumah dengan keadaan tertekan karena hati saya yang kosong, sunyi tetapi ada setetes air yang indah, iya itu adalah dirinya yang mengisi kesunyian hati saya dengan setetes kebersamaan saya dengan dirinya walaupun kami hanya teman, wuss alay banget saya ini. Yasudah saya pun selalu melakukan tradisi disabtu malam saya, tradisi jalang yang selalu saya lakukan, yaitu;
1. Pertama saya selalu olahraga disore hari agar badan fit saat sabtu malam menjelang.
2. Mandi dengan mengoplos sampo dari adek, kakak, bapak, dan ibu biar wangi kayak di surga, alhasil kayak bau kentutnya neptunus(itu hanya kiasan, karena saya belum pernah mencium bau kentut dari neptunus).
3. Menyisir rambut, itu adalah tindakan yang sangat amat jarang saya lakukan setelah rambut saya udah tak botakin, njirrr.
4. Nyalakan sepeda motor dan memanasi mesinnya.
5. Digas keras-keras agar tetangga tau kalok saya mau malam mingguan.
6. Terus mesin sepeda motornya dimatiin.
7. Nangis sebentar di sebelah sepeda motor.
8. Masuk kamar dengan mata berkaca-kaca, lalu tidur
Itulah delapan tahap dan tradisi saya saat sabtu malam menjelang dalam kehidupan saya. Tragis dan nestapa diri saya ini sebenranya. Tapi ya gimana lagi, namanya juga jones. Dan pada hari minggunya saya selalu facebookan, sapa tau bisa dapat pacar dari jejaring sosial. Eh kampretnya yang ngchat bukan gebetan malah teman-temen cowok, hii mungkin mereka gay, halah.
Saya selalu keheranan dengan cewek-cewek yang ada di jejaring sosial. Foto mereka tampak cantik dan putih mengkilat. Tamapak indah. Dulu saya pernah punya kenalan dari facebook yang nama facebooknya adalah "cahcah cuaem beut inint beubah" dan ada besar kecil didalam tulisannya. Ahh saya sempat dengan para alay juga, nama aslinya adalah Chacha. Dan waktu smsan dia sangat alay bahasanya. Saya sempat curiga dengan mereka para alay. Apakah bahasa sms mereka itu gaul maksa atau sandi-sandi rahasia karena mereka itu sebenarya teroris yang mencari pengikut lewat bahasa alay tersebut. Halah, melenceng dari topik. Saya mau bahas si Chacha. Jujur saya pertama melihat foto profilnya udah tertarik gitu, cantik putih, kayak tembok masjid nurul huda, halah. Saya ngajakin dia ketemuan gitu di manahan. Dia sms kalok dia pakek baju pink dan celana pendek. Saya berfikir pasti dia berpenampilan selayaknya model. Dan kampretnya pas ketemu langsung, ternyata berbanding terbalik dengan harapan saya. Dia item kurus, dan pakaiannya norak. Dengan gerilia saya melarikan diri dan engan menemuinya. Maafkan saya, tapi anda alay. Dan saya menyadari ternyata kata-kata dari Kemal Palevi itu benar "Cantik itu relativ, presiden itu esekutif". Ehh bukan maksutnya "Photoshop itu alternatif". Sejak itu saya paham secantik-cantiknya foto di facebook, pasti lebih cantik orang cantik. Anjirrr.
Ya beginilah tradisi saya, tradisi yang egak pernah masuk akal bagi para manusia yang mempunyai iman yang kuat. Saya sadar tradisi masih bisa diubah, kita egak bakal mau mempertahankan tradisi yang tidak memiliki manfaat dalam hidup kita, kita gak mau memelihara tradisi yang bersifat primitif, kita ingin memberi inovasi pada tradisi dalam kehidupan kita. Karena tradisi kita, kita sendiri yang menentukan. Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar