Disini saya membuat tulisan dengan judul "3CM". Ya mungkin sejenis cerita dari novel "5CM" tapi bedanya kalok di 5CM kan angka depannya lima sedangkan kalok di 3CM angka depannya juga lima, tapi dikurangi dua, jadinya tiga. Kesamaannya adalah dalam cerita ini berisikan pendakian kepuncak gunung tapi kalok di 5CM itu naiknya kegunung semeru dan ada Herjunot Ali yang ganteng. Dan kalok di 3CM ini bukan di gunung semeru tetapi di gunung lawu dan gak ada Herjunot Ali, dia digantikan saya. Saya yang hampir mirip dengan Junot. Jempol kakinya.
Ditulisan saya ini tidak seperti dalam buku novel 5CM yang keren dan bagus menurut pembuat bukunya. Dalam 3CM ini merupakan cerita tentang kisah saya sendiri yang untuk pertama kalinya naik gunung. Dan bukan cerita yang memberi motifasi untuk anak-anak remaja pada saat ini, gini nih motivasinya; Jika kalian mempunyai cita-cita maka tempelkan lah cita-citamu lima centimeter didepan kepalamu. Saya gak tau apa maksutnya dari motifasi dibuku itu. Apakah jika kita mau menjadi pilot maka kita harus nempelin cita-cita kita limacentimeter didepan kepala kita. Dan yang ditempelkan apa? Pesawat? Atau pramugari?. Dan karena motifasi seperti itu bisa membuat buku tersebut atau novel tersebut menjadi keren maka saya juga akan membuat motifasi yang gak jauh beda; Jika kamu kebelet eek maka tempelkan lah eek orang lain tiga centimeter didepan kepalamu. Dengan motifasi ini kita bisa mengantisipasi jika kita kebelet BAB dan dalam posisi yang sulit, misalnya lagi pidato atau ada rapat apalah yang tidak menghendaki kita untuk pergi kebelakang. Maka alangkah baiknya jika eek temen kita, kita taruh tiga centimeter didepan kepala kita. Maka kita akan jijik sendiri dan trauma buat BAB karena eek temen kita. Maaf jika motifasi saya tidak bermanfaat.
Oke kali ini akan fokus sama cerita saya sewaktu kemarin sabtu sore tentang naik gunung. Oh ya sebenernya singkatan dari 3CM itu sendiri adalah 3 Cinta Mendaki. Tapi ya waktu itu yang mendaki ada enam orang. Cinta yang pertama adalah Cesar dengan Fany, cinta yang kedua adalah Putut sama Nadia(sebenernya mereka egak pacaran atau gebetan atau apalah karena katanya Nadia udah punya pacar, tapi biar pas sama judul aja mereka saya jadikan cinta), dan cinta yang ketiga adalah saya dengan Alifa(cinta paksaan buat Alifa). Dan saya merasa geli nulis-nulis cinta-cintaan alay gitu. Sumpah kaliini bahasanya agak njijikin.
Kamis itu saya sudah membuat janji dengan Alifa buat nonton filmnya Raditya Dika yang paling baru yaitu Marmut Merah Jambu. Dirumah, saya sudah bersiap-siap dan sudah mandi pukul 9nan pagi, padahal janjiannya jam sebelas siang. Tapi gak papa karena saya terlalu semangat terhadap hal tersebut. Saya yang sudah ganteng jika wajah saya ditutupin sama topeng wajahnya Onadio Leonardo. Memutuskan untuk tiduran sebentar sambil tidur(atau sering dipanggil tidur, apaan) sampai pukul sebelas siang.
Setelah hampir jam sebelasan siang saya sms keAlifa untuk nyamperin dia dan sekaligus langsung nonton ama dia. Sesampainya dikosnya Alifa, saya lupa pakek deodoran dan ketek saya sedikit bau. Saya gak mau membuat dia ilfil sama bau ketekku yang jika orang mencium baunya dalam jangka waktu lima detik, orang tersebut akan terkena penyakit mers(penyakit yang baru-baru ini lagi eksis di Mesir). Yasudah karena saya selalu membawa deodoran didalam tas saya, maka saya langsung bergegas mengoleskan deodoran tersebut ke ketek saya sambil melihat-lihat gerbang kosnya, apakah dia sudah keluar atau belum.
Setelah dengan cepat dan tangkasnya saya mengoleskan deodoran keketek saya dan menaruhya kembali ke tas saya dia pun keluar. Dengan rambutnya yang terurai, dengan badannya yang gempal, dan dengan hidungnya yang aneh saya pun memperhatikan dia yang sambil membuka pintu gerbang kosnya. Dalam hati saya berfikir "Kenapa dia? Kenapa aku suka dia?". Saya tidak tau kenapa saya suka dia, bukan karena fisiknya(karena dia maco) dan bukan karena materinya(dia anak kos) dan saya pun bukan cowok matre, tapi saya cowok berpawakan gay yang suka diliatin mas-mas gay yang lagi makan di foodcourt. Anjir apaan. Saya gak bisa bohongin hati saya sendiri, simpel sebenernya. Saya suka dia.
Dia berjalan kearah saya dan membonceng saya. Kita akhirnya naik motor barengan setelah berkali-kali naik motor barengan. Kampret. Ditengah-tengah perjalanan kami ngobrol banyak, tentang Alien, tentang planet namek, tentang film Hunger Game yang saya gak tau filmnya seperti apa.
Kita sampai di Solo Grand Mall. Saya memarkir motor dan kampretnya terlalu banyak manusia-manusia dimall tersebut sehingga minim tempat atau zona kosong buat parkir. Ada sedikit cela dipojok tempat parkir, dengan susah payah saya memarkir motor karena sempit dan harus ngatur posisi motor orang biar cela kecil tersebut dapat diparkirin motor saya. Dengan usaha yang saya lakukan untuk memarkir motor tersebut, dengan tetes keringat yang sangat sedikit, saya pun selesai markir motor.
Dia dan saya menaruh helm kita di sepion motor saya. terus kita lanjut berjalan menuju bioskop 21. Banyak sekali orang disana, dari yang masih seragaman SMA sampai yang seragaman SPG. Tapi waktu itu lbur jadi yang seragam SMA itu tidak ada. Mungkin saya salah lihat atau mungkin sekarang lagi musimnya hantu pakek seragam SMA dan nongkrong dimall. Ya sejenis hantu pakek kain putih dan nongkrong diatas pohon. Tapi versi SMA. Sudahlah.
Kita berjalan bersama dan mengobrol dengan bahagianya karena sudah tidak sabar melihat film marmut merah jambu. Sesekali kita menghentikan langkah disaat sudah sampai tangga berjalan atau sering disapa eskalator. Kadang kita juga saling hening atau diam karena sudah habis apa yang mau dibicaraain atau dibahas. Saya menatapi wajahnya dari samping dan dia tetep menatap kearah kemana dia berjalan. Setelah berjalan cukup jauh, dari lantai dasar menuju kelantai paling atas kita tidak merasakan letih, karena bantuan eskalator. Kita tiba di muka pintu grand 21 dan yang terjadi adalah banyak sekali remaja yang antri film marmut merah jambu. Antrian itu kayak pembagian beras geratis pada kaum marjinal, kayaknya ada yang pingsan karena kehabisan oksigen dan ada juga yang mati karena keinjek-injek gara-gara antri tiket nonton marmut merah jambu. Setelah tau bahwa tiket jam duabelas habis dan gak mau antri buat bunuh diri bersama kita pun meninggalkan grand 21 dan menuju ke foodcourt buat beli es cream di Mc Donald.
Setelah beli es cream kita pun mencari tempat duduk di foodcourt buat bersandar dan bercerita sejenak. Melintasi meja-meja yang penuh orang. Ada yang makan sendirian padahal masih bisa buat tiga orang lagi tuh meja, ada yang makan bareng-bareng sampek-sampek temennya sendiri ikut kemakan, dan ada juga yang egak makan atau minum tapi cuma numpang wifi(atau sering disebut 'fakir wifi'). Kita memancarkan mata kita dan memfokuskan meja mana yang kosong dan dapat disinggahi. Kita nemu meja kosong dengan bekas makanan nasi goreng yang belum habis dan dengan kursi yang berantakan selayaknya habis dimadu terus dibuang. Kita duduk dimeja di depan serba sambal.
Saya meletakan tas saya dikursi yang egak kepakek dan dia pun juga meletakan tasnya di kursi yang egak kepakek. Kita duduk berhadap-hadapan. Saya menatapi mukanya dengan hidungnya yang pesek beberapa detik. Bahagia. Tiba-tiba dia langsung bukak hpnya terus bilang sama saya.
"Angga, besok sabtu ikut yuk naik kegunung lawu?".
"Ha naik? ya gak papa sih". Kata saya sambil sedikit bengong.
Saya mengiyakan karena saya pergi dengannya. Gunung itu dingin dan dia cewek, maka saya harus melindunginya. Walaupun pada kenyataannya saya yang dilindungi dia. Njir.
"Oh sip, yaudah aku tak bilang ayahku dulu". Sambungnya sambil mengetik sms di hpnya. Beberapa menit kemudian ayahnya membalas sms dari Alifa.
"mending gak usah nak, waktunya buat belajar daripada buat naik gunung"
Dia terdiam, nunjukin sms dari ayahnya. Dia jadi BT dia jadi lemas karena egak dibolehin ayahnya buat naik gunung. Terus dia bales sms bapaknya. Dan di bales lagi sama ayahnya.
"Jangan yo, disana banyak hewan liar, terus ada gunung beracun"
Dia kembali BT dan lemas sambil nunjukin sms dari ayahnya. Saya terdiam, menelan es cream yang sudah masuk kemulut saya dan berfikir. APA ITU GUNUNG BERACUN?. Apakah sejenis gunung yang bisa mengeluarkan bisa atau sejenis gunung yang mempunyai sengatan yang beracun sehingga korban yang disengatnya bisa kena penyakit SARS. Saya bingung dan sedikit tertawa dan bilang kepada Alifa.
"Fa, gunung beracun itu apa? emang ada?"
Alifa terdiam dan sedikit tertawa lalu di jawab "Ya maksut ayahku tuh gunung kan mesti ada pohon beracun atau hewan beracun, tapi ayahku menyingkatnya jadi gunung beracun biar lebih ringkes ngga, ini kan sms jadi harus sesingkat dan seefektif mungkin".
Dia anak yang baik kepada ayahnya. Dia membela mati-matian dari kata yang diucapkan ayahnya, yaitu 'gunung beracun'. Walaupun pas dia bicara saya malah cengoh sendiri karena kecepatan bicaranya mungkin setara dengan kecepatan cahaya. Hiss.
"Wah kamu anak yang berbakti kepada ayahmu ya, yaudah aku coba sms ayahku juga buat ijin naik kepuncak"
Beberapa menit kemudian kami dikagetkan dengan sebuah getaran yang bisa meruntuh kan gedung Grand Mall ini. Dan getaran tersebut berasal dari hp saya. Saya buka ternyata ada pesan masuk dari ayah saya. Lalu saya buka smsnya.
"Egak usah le!"
Kampret ternyata saya juga egak diperbolehin naik gunung sama ayah saya. Kami berdua lemas. Pertama kita gak jadi nonton dan yang kedua kita egak diperbolehin ayah kita(maksutnya masing-masing ayah dari kita, karena kita egak satu ayah). Mungkin ayahku dan ayah Alifa lagi mancing bareng dan ternyata mereka udah temen akrab dan ternyata mereka adalah sodara yang tertukar dan sudah bertemu, terus mereka saling mancing dengan bahagianya. Tiba-tiba anak-anak dari mereka sms bahwa anak-anak dari mereka pengen naik gunung dan mereka pun berkonspirasi bahkan berkoalisi buat ngelarang kita naik kepuncak gunung lawu.
Tapi si Alifa tidak menyerah begitu saja dengan hasil keputusan yang telah diberikan oleh ayahnya. Akhirnya dia berusaha dengan kerasnya dan si ayah Alifa pun berfikir dan bilang mau tanya ibunya Alifa dulu. Saya pun gak habis pikiran juga, terus saya smsan sama ayah saya,
"yah gunung lawu itu tempat mendakine anak-anak cupu lho"
"tapi ya jangan to le, sekarang itu lagi musim gunung meletus"
Saya terdiam dan memperlihatkan sms ayah saya kepada Alifa. Dia ngetawain saya gantian. Mungkin Alifa berfikir kalok gunung itu adalah sejenis rambutan yang tumbuh kalok pas musimnya aja tapi bedanya ini bukan tumbuh buah melainkan meletus hanya pada musimnya saja, dan musim itu adalah musim gunung meletus. Aneh.
"Pak ini gunung meletus itu bukan rambutan yang datang permusim, terus gunung lawu adalah gunung yang gak aktif"
Setelah itu kami bincang-bincang sambil berdoa agar kita diperbolehkan untuk naik gunung lawu. Dan tiba-tiba sejenis getaran yang bersumber pada kantung celana saya tiba. Saya langsung ditelfon.
"Halo pak"
"Bukan ini ibu, pokoknya ibu gak mau kamu naik gunung, disana dingin, dan tinggi. Kamu kan takut tinggi"
"Egak yo bu, nanti aku pakek jaket deh"
"Ya pokoknya jangan" "Tututut~"
Langsung dimatikan telfonnya oleh ibuku. Si Alifa terdiam dan bertanya.
"Siapa ngga?"
"Ibu"
"Sampek ditelfon?"
"Iya"
Saya menjawab agak sedikit-sedikit dan malu takut dikira Alifa kalok saya itu anak mami-abel.
Jam tangan aku menunjukan tepat pukul dua siang. Saya melihat kearah Alifa yang wajahnya penuh dengan kabut karena egak diperbolehin ayahnya naik gunung. Terus hidungnya kembang kempis walaupun hanya bisa kempis dan susah kembang, halah. Aku pengen ngajak dia nonton gitu. Tapi nanti aku nglesin anak-anak dipalur yang sudah hasuh darah saya. Seakan-akan anak-anak sudah tidak sabar buat ngisep darah saya perlahan-lahan. Ya paling selesainya jam empat kurang lah kalok liat filmnya. Yaudah saya ngajakin buat keatas buat ngecek loket dan lihat filmnya Raditya Dika.
"Ayo fa nonton aja"
"Kamu kan ngelesin habis ini"
"Gak papa yo, telat dikit"
"Serius?"
"Iyak fa"
"Yaudah yuk"
Kita berjalan menyusuri kursi-kursi foodcourt yang berantakan dan ada bekas-bekas makanan. Saya bertemu teman saya, egak disapa malah dilempar tisu. Mungkin itu tisu bekas ingusnya. Dan mungkin teman saya itu lebih melihat saya mirip tong sampah daripada temannya. Njirr. Kita naik keeskalator. Kita bengong. Saya kentut sedikit. Dia egak sadar.
Kita bersa dejavu melintasi tempat yang baru saja dilewati. Berasa orang-orang pada memperhatikan dan seraya berbicara "Mbaknya dari tadi bawa anjing terus ya, mungkin mbaknya ngira kalok tokoh makanan anjing ada disini". Saya merundukan kepala, Sapa tau ada uang satu miliar atau beberapa juta dan ternyata tidak ada apa-apa kecuali debu-debu dingin yang terkena AC dari mall. Kita udah sampai di Grand 21 dan ternyata antriannya penuh. Beberapa menit kemudian terdapat tulisan bahwa marmut merah jambu jam dua siang tiketnya sudah habis. Saya sedikit menahan tangis. Dia biasa-biasa saja.
"Yaudah ngga, mungkin kamu harus membantu anak-anak itu biar nilanya bagus"
"Iya fa"
Padahal didalam hati saya berbicara "Egak fa, mereka egak butuh ilmu dari aku, mereka butuh darahku, mereka setengah drakula, serem fa, tolong aku!". Ya itu isi hati saya.
Akhirnya pun rencana saya untuk nonton bareng dia pun gagal. Fail men!. Tapi yang penting saya udah bisa ketemu sama dia. Terus yang masih egak enak adalah "apakah jadi naik gunung lawu?". Pertanyaan tersebut terus membayangi wajah dari Alifa. Saya terus ngajakin ngobrol sama dia, dia biasa aja. Akhirnya dia pengen nekat aja kalok egak dibolehin orang tuanya. Ya dia anak kos, kalok nekat toh orangtuanya egak tau, paling juga pulang-pulang dikutuk jadi batu sama ibunya. Lha kalok saya. Egak boleh ya tetep egak boleh. Mau pakek motor buat berangkat, kalok egak dibolehi ya egak dikasih kunci motor. Ya masak harus jalan kaki sampek ke lawu. Bisa jadi Hulk dengan warna kulit putih, akibat panu. Pokoknya nanti pulang mau cari alesan biar diperbolehin sama ayah.
Selain permasalahan itu saya juga pengen banget liat marmut merah jambu. Yasudah karena egak jadi lihat filmnya akhirnya saya ngajakin Alifa ke gramedia buat beli tuh buku novelnya ajah. Kita keluar dari parkiran langsung cus nuju ke gramedia. Sesampainya disana, kita markirin motor dulu terus turun, gak lucu kalok motornya juga ikutan masuk dan lihat-lihat buku bareng-bareng.
Sampai pada parkiran kita lihat obralan buku limapuluh persen. Lumayan sapa tau ada buku yang bagus disana. Kita berdua lihat-lihat buku. Menyusuri rak-rak buku. Saya menyusuri rak-rak buku dan tersesat akhirnya saya ditolongin tim SARS buat keluar dari rak buku tersebut, apaan. Saya melihat buku tentang hantu-hantu nusantara. Tuh buku njelasin hantu epidermik asli dari Indonesia. Dari pocongan sampai teh poci, halah. Pokoknya semua hantu ada. Saya lihat-lihat terus nunjukin Alifa gambar pocong yang serem banget. Dia takut terus mukul saya. Pukulannya berasa laki-laki sekali. Terus saya buka-buka buku itu lagi dan ada gambar babi ngepet yang sedang dibunuh warga dari desa yang tidak mau disebut namanya karena ketahuan lagi ngepet. Saya ndeketin Alifa terus bilang kedia.
"Fa kamu jangan pergi kedesa yang tidak mau disebut namanya ya"
"Emang kenapa ngga?"
"Nanti kamu dibunuh, nih lihat". Sambil ngelihatin gambarnya.
Wajahnya jadimanyun, bibirnya ditipisin, hidungnya semakin mengempis dan bulu hidunya menjuntai karena ejekan saya, terus saya dipukul lagi. Dan yang saya rasakan adalah dia memang setengah laki-laki. Akhirnya kami lanjutin masuk kedalam setelah saya merasakan pukulannya yang maco banget. Pertama-tama saya dihadangin satpam, mungkin karena wajah saya mirip teroris. Satpam tersebut meminta saya untuk melepas jaket dan tas saya lalu dititipkan ketempat penitipan. Kami suda menitipkan barang bawaan kami. Kita berdua langsung menuju bagian buku tapi ditengah-tengah perjalanan ada tokoh yang menual peralatan mendaki, kami diam sebentar untuk melihat barang-barang tersebut beberapa detik terus kita lanjut naik ke bagian buku. Kami disini terpisah membaca buku-buku yang bertebaran dirak-rak sana. Saya mencari buku komik dan ternyata gak ada. Dia gak tau mau cari buku apa. Setelah muter-muter lama dan mbaca-baca buku yang agak gak jelas menurut saya. Saya pun menghampiri dia dan melihat dia yang sedang membaca sinopsis novel apa gak tau saya. Kami cari-cari buku dan akhirnya nemuin buku novel marmut merah jambu. Saya pengen beli tuh buku tapi dianya membuat saya ragu dengan perkataan "Serius mau beli? filmnya udah ada lho". Memang saya tipekal orang yang mudah tergeser pendiriannya. Lemah pendirian saya. Ya tapi dengan tekat saya karena pengen tahu isi bukunya yaudah saya pun menekatkan untuk membeli novel tersebut. Dikasir saya bertemu kakak kelas SMA saya. Dia senyum lihat saya. Seakan berfikir kalok saya udah normal bisa jalan sama cewek dan bukan alien atau dinosaurus. Dan kagetnya lagi ternyata yang jaga kasir juga kakak kelas saya. Mungkin dulu pas lulusan SMA pada kakak kelas saya kalok lulus hanya bisa kerja di gramedia atau apalah saya gak peduli, haha. Dan tiba-tiba kakak kelas saya yang tadi menepuk pelan pundak saya.
"Ngga, novelnya mau diganti yang ada bolpoinnya gak?"
"Oh iya mbak boleh"
Gak tau kenapa kakak kelas saya tadi baik banget, mungkin dia bersyukur akhirnya adik kelasnya bisa normalan dikit. Dan pas dikasir mau bayar kakak kelas saya yang satunya bilang.
"Didiskon apa egak?"
"Oh egak usah mbak, udah baik dikasih novel yang ada bolpoinnya"
Mungkin alumni adik kelasnya egak malu-maluin atau kenapa. Ya gak tau lah saya. Kita kembali pada penitipan barang. Sebelum kepenitipan barang kita ngelihat barang-barang untuk mendaki. Dari kaos, ketu, jaket, sampai tas carer ada disitu.
"Ngga, kata mas Cesar kalok mau ikut harus bawa tas carer 70 liter"
"Oh gede dong, emang mana tulisannya 70liternya fa?" Sambil menggledah-gledah price tag dan kebingungan.
Alifa melihat saya dengan konyolnya lalu bilang "Ngga ini lho diluar tas ada tulisan liternya, gede banget lho"
"Oh iya ya fa" Sambil ngarukin kepala.
Kita kembali kepenitipan barang. Kita ambil barang kita masing-masing. Terus menuju keparkiran. Dan akhirnya ita pulang. Terus pas perjalanan pulang dia bilang pokoknya mau naik gunung lawu. Yaudah saya juga mau.
Sesampainya dirumah saya langsung mencari ayah saya. Dibawah kasur saya cari-cari egak ada. Diatas genteng saya cari juga egak ada. Didalam kolor saya, saya cari dan ternyata juga egak ada. Ternyata dia dikamar lagi tiduran.
"Yah aku besok sabtu naik kelawu ya, ya, ya?"
"Jangan le, tinggi lho"
"Egak papa yah, kan gunung lawu itu gunung yang didaki buat pemula"
"Yaudah, le buat pengalaman, tapi jangan sakit lho"
Akhirnya saya diperbolehin oleh ayah saya, Tips buat kalian kalok mau naik gunung tapi egak diperbolehin ayahnya; Ya jika kalian egak diperbolehin ayah kalian naik gunung coba deh minta secara halus dan secara mata berkaca-kaca. Jika masih tidak boleh coba menangislah dan merintih-rinth dikaki ayah kalian sambil ciumin tukaki. Jika masih tidak boleh lagi, ancam ayah anda kalok gak boleh maka kalian akan telanjang dan mamerin titit ke para warga sekomplek biar ayah kalian malu. Jika masih saja tidak diperbolehkan itu berarti ayah kalian pengen kalian tuh jadi orang gila.
Setelah nyari restu dari ayah dan boleh akhirnya, saya berlanjut nyari restu keibu, walaupun restu lagi tiduran dirumahnya. Halah.
"Bu aku naik gunung loh, udah boleh ayah, boleh kan bu?"
"Ya sebenernya sih egak boleh, tapi ayahmu udah ngijinin yaudah. Tapi disana kamu harus pakek jaket, jangan makan sembarangan, jangan makan tanah, jangan mamerin titit keteman-teman, terus hati-hati kamu nanti kalok diculik gendruwo, dan jangan ambil barang sembarangan takutnya keramat"
Saya terdiam mendengarkan dakhwa dari ibu saya yang panjang lebar. Terus alesan-alesan mistis dari ibu saya membuat saya heran. Apakah dulu ibu saya pernah pacaran sama joko bodo sampai anaknya takut diculik gendruwo.
Sayapu lanjut mengelesin anak-anak, dan waktu itu terjadi biasa saja. Hari kamis itu ditutup kisah saya dengan tidur malam.
Berlanjut harijumat saya bangun agak siang. Saya langsung sms ke Alifa kalok saya diperbolehin naik gunung. Dia juga gak tau diperbolehin atau egak tapi dia nekat seumpama egak diperbolehin. Ya dia wanita yang nekat mungkin. Mungkin seumpama dia egak diperbolehin makan makanan junk food sama orangtuanya, dia mungkin nekat maksa makan sampah-sampah dideket kosnya. Ya atau, sudahlah.
Dia sms tentang perlengkapan yang harus dibawa buat besok naik kegunung lawu. Ya yang dibawa sama halnya kayak kemah tapi tasnya harus carer dan harus bawa sleeping bed. Dan saya gak punya. Saya sms ketemen-temen saya. Mereka pada gak punya, ada yang lagi dipinjem sodaranya ada juga yang habis dijual. Kampret saya harus gimana. Yasudah akhirnya saya hanya menggunakan tas biasa dan sleeping bed digantikan oleh selimut tipis, yang lebih mirip tisu dijahit lebar agar bisa muat masuk tas saya. Persiapan alat sudah lengkap menurut keyakinan saya dan tinggal nyiapin mental saja. Saya mempunyai mental lemah. Saya paranoid kalok tau-tau disana ada tanah hidup terus tak injak terus saya tenggelam dalam kenangan, lho apaan.
Setelah jumatan dan berdoa agar besok lancar dan wajah biar gantengan dikit saya langsung kekamar, ngecekin barang-barang dan udah komplit. Langsung saya berlanjut kerak buku, ngambil buku marmut merah jambu dan membacanya. Saya selesai membaca buku tersebut dalam waktu tiga sampai empat jam. Tapi dua menit kemudian saya sudah lupa isi cerita marmut merah jambu tersebut. Saya payah dalam hal mengingat mungkin. Dan yang saya takuti adalah seumpama saya nembak cewek terus kencan selama dua jam dan habis itu pulang dan dua menit kemudian saya udah lupa habis kencan sama siapa. Dan yang paling parah tiba-tiba saya lupa caranya bicara terus saya lupa apa sih arti kata 'lupa'. Kampret ngawur lagi.
Jumat berakhr digantikan hari sabtu. Tubuh bangun dengan kakunya karena kurangnya olahraga dan terlalu banyak menghirup asap roko dulu harinya. Merabai kamar buat mencari hp, butuh waktu lama mencarinya. Entah karena kamar saya yang terlalu berantakan dan menimbulkan maze atau hp saya bisa jalan-jalan sesuka hatinya sampek-sampek sulit buat dicari. Saya jadi paranoid sendiri. Jangan-jangan hp saya itu sebenernya hidup dan bisa berbicara tapi saya tidak paham. Aduh kenapa jadi kayak gini ceritanya. Setelah menemukan hp saya yang sempat dimakan kasur saya smsan dengan Alifa sebentar sekalian nyiapin mental buat naik nanti. Beberapa masukan dari teman-teman dan keluarga pun bermunculan. Dari teman katanya kalok naik gunung jangan lihat kebelakang nanti doamu egak terkabul sampai ada orang gaib yang jualan pernak-pernik gaib. Dari ibu, tetep egak boleh makan tanah sama disuruh berdoa biar egak diculik gendruwo. Lalu dari ayah, malahan saya disuruh manjat-manjat dulu biar hebat dan bisa dipamerin ketemen-temen kalok saya ini hebat dalam memanjat. Tentunya Ayah saya memberikan sedikit pesan sama saya "kalok ditanya temenmu siapa yang ngajarin manjat, bilang, AYAH!". Saya mengangukkan kepala, ayah saya aneh. Tapi dia tetep ayah saya yang saya cintai. Wisss.
Detik berlalu, menit juga berlalu, jam juga berlalu, kenangan dengan mantan juga berlalu(nangis sebentar). Melihati jam dan mulai mendekati angka tiga. Saya bergegas mandi. Kali ini saya mandi dengan normalnya, tidak memakai pembersih kelamin wanita atau pun mencampuradukan beberapa sampo yang terdapat dirumah. Saya mandi selayaknya manusia setengah ikan, putraduyung. Lalu saya ketemu spongebob yang sedang pacaran sama patrik dikamar mandi saya. Dan saya baru sadar kalok hayalan saya itu najis banget. Sesudah mandi saya ngecekin tas dan tiba-tiba ibu berada disamping saya yang lagi ngecekin tas dan berkata sambil menaruh sesuatu ditanganu.
"Ngga bawa ini, ini gula jawa, penting untuk kesehatanmu"
"Heem~". Kata saya bingung.
Ibu memang orangnya perhatian sekali terbukti pada saat dia lihat sinetron. Beliau selalu teriak-teriak didepan layar kaca memberi tahu apa yang seharusnya si artis sinetron itu lakukan. 'Dia dibelakangmu, tolonglah ditengok, bego!' itu kata-kata saat si cowok nyari si cewek dan si cewek lewat dibelakangnya. Lho malah mbahas sinetron. Dan jam sudah menunjukan tepat pukul tiga saya sms Alifa dan ternyata berangkatnya jam empat, mundur satu jam. Yaudah saya ngehirup nafas lalu ngeluarin nafas secara berturut-turut dalam rentan waktu satu jam tersebut. Manusiawi. Akhirnya jam empat dan saya tidak mau cerita satujam sebelumnya kegiatan apa yang saya lakukan dengan rinci. Halah. Saya sms Alifa terus disuruh berangkat kekosnya. Saya pamitan dengan orangtua, saya cium tangan dan sungkem kepada mereka. Saya berharap dikasih uang fitrah. Tapi ayah malah pengen saya cepet-cepet pergi. Hina rasanya.
Tas sudah terbawa, sarungtangan sudah terpakai, masker sudah dihadapan mulut. Langsung saya menaiki motor saya. Menuju kekosnya Alifa. Berjalan dengan pelan dan dengan groginya karena bentar lagi saya mau naik gunung. Wow. Alay. Biarin. Halah. Sampai dikos Alifa. Sms Alifa kalok saya udah didepan kosnya. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh besi-besi berjatuhan atau semacam benda berat dibalik pintu gerbang kos Alifa. Gerbang terbuka, hidungnya yang aneh mulai terlihat. Membopong tas yang lumayan besar dan menarik-narik tas carer yang besarnya bisa buat nyulik dua sampek tiga bayi orang. Dia tersenyum aneh menatap kearah saya, terus senyumnya hilang ketika dia melihat tas dan penampilan saya. Saya salah kostum.
"Kampret kamu mau kuliah? Tasmu kecil banget"
"Oh, lha, anu, aku kan praktis"
"Kamu bawa apa aja? mesti cuma bawa mie?"
"Egak yo, semua yang mbok suruh tak bawa, kecuali sleeping bed, tak ganti sama selimut"
"Bawa mie berapa? bawa minum berapa?"
"Bawa mie satu dan air dua botol tanggung"
"Angga bego, kita naik gunung butuh waktu enam jam dan turun sekitar enam jam, kamu cuma bawa mie satu nanti kelaparan mau makan apa? rumput mbok rebus?"
"Ahh lha tapi kan biar praktis gitu"
"Praktis apanya, aku gak mau tanggungan kalok kamu mati kelaparan, terus kalok kamu dehidrasi gara-gara haus yaudah ditinggal aja?"
"Aaa ya nanti gampang lah fa, Eh kamu bawa apa aja emange?". Modus pengalih perhatian.
"Nih lihat sendiri"
Saya menatap tasnya, saya buka, ada plstik yang menutupi isinya. Saya buka plastiknya lagi dan dia membawa orangtuanya juga. Hahah egak bercanda. Dia sepertinya membawa satu per tiga dari isi kamar kosnya. Komplit banget kayak mie ayam pakek telur.
"Lihat tuh, aku aja bawa mie sampek lima terus minum dua setengah liter"
Saya hening sebentar meratapi kisah saya nanti digunung akan seperti apa. Saya berdoa semoga bisa. Tiba-tiba Aifa sudah di sms Cesar buat ngumpul dulu didepan kampus. Saya mengangkat tas carer yang besar punya Cesar yang dititipin ke Alifa, menggendong tasku menghadap kedepan dan Alifa membawa tasnya sendiri. Saya kebingungan cara menaruh tas carer punya Cesar kemotor saya, yaudah kami menaruhnya apa adanya saja, eh sebisanya.
Dengan susah payahnya mengendari motor yang penuh muatan(tas biasa + tas carer raksasa + tas carer biasa + bokong Alifa). Akhirnya kami sampai ditujuan walaupun sempat dikira orang-orang pada mau pindahan rumah karena muatan saya. Kampretnya sesampainya disana ternyata masih sepi. Hanya orang-orang yang tidak kami kenal berkliaran. Kami berhenti sejenak untuk menunggu, terus si Alifa nepok pundak aku dan bilang "pret, ayo cari warung buat beli logistikmu, daripada kamu mati kelaparan".
Yaudah akhirnya saya dan dia mencari warung dideket kampus. Nemu warung terus kita beli beberapa mie dan beberapa air minerl botol tanggung. Setelah membeli perlengkapan logistik kami pun beranjak ketempat sebelumnya. Kami berdua duduk didepan kampus sambil nungguin orang-orangnya. Tiba-tiba Cesar dan Fany datang. Mereka ketawa-ketawa terus ngeletakin tas besar terus pergi pamitan mau cari makan dulu. Kami ditinggal berdua lagi. Disaat itu saya manfaatkan buat nembak Alifa lagi. "Fa, jadian yukk". Dan akhirnya dijawab "Gak". Yah siklus banget, gitu-gitu terus.
Setelah nungguin lama tiba-tiba ada cowok berbadan kurus dan berkacamata memboncengkan gadi gempal dan pendek. Dia temennya Alifa yaitu mas Putut dan mbak Nadia. Pertama saya masih belum mengenal mereka. Kita ngobrol-ngobrol sebentar walaupun hanya mereka bertiga yang ngobrol dan saya di asingkan karena mirip Alien. Dan akhirnya terdengar adzan maghrib. Mas Putut dan mbak Nadia solat duluan. Saya dan Alifa yang menjaga tas-tas yang berhampuran dan berisikan peralatan berat. Lalu entah kenapa ada suara motor yang mulai mendekat dan setelah kami tengok ternyata ada Cesar dan Fany. Yaudah kami suruh mereka jaga barang bawaan dan saya dan Alifa mau sholat maghrib duluan. Kita boncengan terus sholat maghrib di masjid Nurul Huda belakang UNS. Setelah Sholat selesai perut saya seakan-akan memberontak ingin mengeluarkan sesuatu, sepertinya bayi. Ternyata saya melahirkan. Kampret apaan ini. Yaudah saya pun pergi kekamar mandi buat persalinan, eh poop maksutnya. Seperti biasa jika saya di kamar mandi dan sedang jongkok termenung, biasanya saya berhayal tentang sesuatu, entah masa depan atau cerita aneh. Disana saya membayangkan kalok saya diterima jadi pacarnya Alifa terus kami menikah terus kami punya anak dan anaknya laki-laki terus tak jual soalnya saya pengen punya anak perempuan. Jahat banget. Setelah proses persalinan saya selesai saya langsung keluar dari masjid. Disana saya sedang memandangi si Alifa yang sedang duduk di tangga masjid, mungkin Alifa sedang pacaran sama jin. Ternyata Alifa seorang dukun, ehh apasih. Egak, Alifa duduk nungguin saya selesai. Saya menghampiri dia. Kita naik motor dan dia bertanya dan terjadi sedikit perbincangan antara Alien dengan majikannya.
"Kamu lama ngapain?" kata Alifa sambil membonceng saya.
"Oh, tadi cuma poop di wc, jagain biar nanti egak kebelet poop pas naik gunung"
"Ih njijikin, emang kamu bisa poop di sembarang wc?"
"Bisa lah, kan semua wc sama aja"
"Aku sih gak bisa kalok poop di wc sembarangan"
"Kenapa? kan cuma menanggalkan celana terus jongkok dan diselingi dorongan pada otot perut dan lubang pantat kan"
"Jijik" kata Alifa sambil memukul pelan kepalaku, sampai bayi-bayi alien dalam telinga saya keluar berceceran. Halah mulai lagi.
Sampai di tempat kita semua berkumpul. Saling tatap dan saling menunggu adanya belas kasian dari milioner untuk ngasih mobil kepada kita. Maaf gak nyambung. Kita semua mengambil barang bawaan dan tas carier kita yang berisikan barang berat dan janin manusia usia tiga bulan. Alifa membawa tasnya yang lumayan berat dan tas saya yang enteng dibawa Fany dan tas carier Cesar ditaruh di bagian depan motorku. Kami pun berangkat menuju tempat tujuan kita yaitu Cemoro Kandang pintu masuk untuk ke gunung Lawu. Dalam perjalanan saya dan Alfa selalu bercanda gitu dan dia enggak pernah absen dengan pemukulan tangannya kehlem saya disaat saya bicara ngelantur. Saya yakin kalok dia sebenernya laki-laki atau mungkin Alifa itu adalah bapak Wiranto yang lagi menyamar, saya ditimpa kepanikkan dan kegelisaan karena saya sempat berfikir seperti itu. Diperjalanan ini kita udah sampai di daerah tawangmangu. Disini gelap banyak pepohonan. Alifa takut dan jalanan terjal. Setelah beberapa menit melalui perjalanan itu kami sampai di basecamp gunung Lawu.
Mengistirahatkan diri sejenak di basecamp lalu beli bakso anget buat asupan karena perut sedikit keroncongan. Alifa mendekati saya dan berkata "Ngga kayaknya ada Inyong". Inyong itu sebutan dari teman saya yang bernama Rahmat yang berasal dari Banyumas. Saya sedikit pengen tahu beneran Rahmat apa bukan, bisa-bisanya sampai kesini. Setelah bakso yang tiba-tiba lenyap dari mangkok kami pun pergi kemasjid diseberang jalan. Saat menengok ke ujung jalan ternyata beneran ada si Inyong kami berdua pun berteriak sekuat tenaga "INYONG!" dan yang menjawab bukan hanya Inyong tapi teman-temannya juga, ternyata semua teman Inyong itu adalah mahkluk dari Bayumas. Iya lah mereka semua nyaut kan Inyong itu artinya aku dalam bahasa sana. Mati gaya kami berdua, kepala menunduk meratapi tanah yang seolah-olah berkata "Mampus habis ini kamu bakalan dimasa sama anak-anak Banyumas". Akhirnya kami pun sholat dan berharap selamat untuk naik gunung dan tidak terkena ancaman dari masa Banyumas. Sesudah sholat dengan air dingin untuk wudu yang dapat membekukan otak, kami pun berlanjut jalan ke basecamp dan ternyata gerombolannya si Inyong udah tidak ada, sedikit lega.
Kita semua bersiap-siap memkai peralatan dan si Fany bilang jangan pakek jaket dulu nanti kalok kedinginan gak ada yang ngangetin lagi. Dalam pikiran saya semoga Alifa memeluk saya dan menghangatkan saya, tapi, assudahlah. Saya melihat banyak gerombolan disini, dari anak SMA, terus para mapala, dan juga Dukun kayaknya. Kami masuk dan Alifa yang menanggung uang masuknya. Kami membentuk lingkaran selayaknya tim sepak bola yang akan bertanding dan berdoa bersama tetapi bukan doa yasin.
Kami mulai melangkahkan kaki setapak demi setapak, baru lima tapak paru-paru saya udah meronta-ronta minta pacar baru, duh bego kan. Sangat melelahkan sekali jalanannya, padahal paru seratus meteran kringat saya udah pada keluar. Medan malam itu sangat gelap sekali tapi tiba-tiba ada cahaya bulat yang bisa menerangi jalan, saya berfikir ternyata mata saya bisa mengeluarkan cahaya, saya orang terpilih seharusnya saya diikutkan menjadi the avanger. Setelah saya menengokkan mata kekiri ternyata cahaya itu berasal dari lamu senter si Cesar yang sangat terang. Keinginan saya untuk menjadi the avanger pupus. Tapi niat saya buat dapetin Alifa masih kokoh tegak berdiri.
Saat melakukan perjalanan itu kondisi medannya sangat gelap sehingga kami tidak tau apakah medannya terjal, landai, atau berbukit. Tapi semua itu tidak akan menghentikan kita meskipun negara api menyerang meskipun negara Berazil menang piala dunia 5 kali ataupun negara Indonesia menjadi tempat tinggal saya. Tapi kenapa malah jadi ngurusi negara. Ahh taik. Ini masalah naik gunung bukan naikin berat badan, halah lagi. Kondisi medannya yang lumayan sulit karena kita juga mengejar waktu agar bisa melihat matahari terbit membuat kita menjadi lebih semangat untuk mencapai puncak.Tetesan keringat yang dingin karena suhu gunung menetes sedikit demi sedikit, punggung baju yang sedikit demi sedikit mulai basah kuyup. Medan yang menanjak selalu dipenuhi oleh pemandangan pantat Alifa yang besar yang seakan-akan mau berubah menjadi batu gunung.Sangat egak kebayang kalok tiba-tiba Alifa jatuh dan menimpa saya, terus pantatnya yang besar itu melindas kepala saya, Uhh mantab bisa gagar otak. Tapi Alifa orangnya kuat lho, dia membawa tas carrier saya yang kecil ples pantatnya yang bebannya kayaknya melebihi tas carrier yang besar yang saya bopong ini.
Kita berenam terus berjalan sampai pada pos bayangan satu, iya masih harus nglewati lima pos lagi baru sampai puncak. Dan ironisnya ini baru pos bayangan, tapi ini ada posnya dan egak cuma bayangan. Saya curiga lalu saya sentuh bangunannya ternyata bukan bayangan tapi semen. Yaudah saya laper dan mengeluarkan roti yang saya beli tadi. Saya bagikan ke Alifa dan teman-teman, kita makan dengan lahapnya. Energi kita terkuras deras. Tapi energiku selalu bertambah saat melihat Alifa yang duduk disampingku ini, bukan disamping pak kusir lalu tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk suara sepatu roda, lho kan. Cukup istirahat kita beranjak bangun. Saya meraih tangan Alifa untuk membantunya berdiri. Asal kalian tau mbantu Alifa berdiri dan berhasil itu rasanya jiwa kelelakian saya udah diakui alam.
Berjalan ringan sambil tertatih dan suhu udara semakin dingin. Kita semua hanya berjalan tak menentu kondisi yang terfokus pada jalan setapak. Terkadang kita harus berkata "Strong mas/mbak" kepada pendaki lain, kita harus beristirahat bersama pendaki lain dan bercengkrama sebentar walau gelap menutupi wajahnya sehingga kita egak tau wajahnya itu kayak unyil atau egak. Sedikit demi sedikit air bekal kita minum dan mulai menipis, atau satu botol di tas saya dan kami menghematnya. Untung ada Alifa yang mengingatkan untuk membeli minuman itu, coba saya cuma bawa dua botol air tanggung mesti cadi canggung dan deidrasi terus berubah menjadi spiderman karena digigit laba-laba berkepala kaki. Njir mulai kan gajenya.
Pos satu terlewati cukup melelahkan rasanya, tapi melihat wajah Alifa yang dipenuhi keringat menjadikan dia tampak lebih cantik alami. Egak tau apa yang bikin wajahnya jadi cantik gitu apakah karena dia memang cantik atau karena saya suka sama dia. Yang penting ini bukan urusan DPR, benerkan?. Di pos ini kami istirahat dan membeli teh hangat sehabis itu kami melanjutkan perjalanan kami. Terkadang saya mengusap keringat Alifa yang menetes sedikit demi sedikit. Kadang juga saya meraih tangannya untuk membantunya menaiki tanjakan. Terdengar suara orang banyak, ternyata kita udah sampek di pos dua. Di pos ini si Fany agak egak enak badan, dia kecapekan dan gak bisa melanjutkan perjalanannya. Fany dan Cesar mendirikan tenda dipos dua ini. Mereka istirahat nyenyak dan kami berempat harus melanjutkan perjalanan buat mengejar sunset, eh sunset apa sunrais ya? ah bodoh. Melihat matahari terbit.
Kami berempat yang sudah ditinggal Fany sama Cesar istirahat melanjutkan perjalanan kami. Tiba-tiba terdengar orang bicara dengan logat ngapaknya. Suaranya sangat jelas kalok itu Inyong (baca; salah panggil). Tapi si Inyong lagi tiduran sama temen-temennya, mereka juga beristirahat tetapi mereka kayaknya mau mengemasi barang. Ah peduli amat saya cuma mendebatkannya dengan Alifa dan kita kembali berjalan sedikit demi sedikit lama-lama kentutnya Nadia keras banget, halah. Tapi ini beneran. Kami semua berasa alam banget, kita egak tanggung-tanggungnya ngeluarin gas bau bersuara dan pipis sembarangan, tapi ingat kita pipis sembarangannya tetep sembunyi-sembunyi egak dilihatin ketemen-temen atau dipamerin kalok kami punya kelamin buat pipis.
Dan entah kita yang banyak istirahat sedikit berjalan tiba-tiba terdengar orang bercengkrama dengan nada ngapak dan benar itu Inyong.
"Eh Inyong" kata Alifa dan egak dianggap si Inyong dan malah si Inyong nyamperis saya sambil bilang
"Lho Ngga masih idup kamu". Nada ngapak yang bikin gondok karena susunan kata-kata mutiaranya membuat saya diketawain Alifa. Saya, Alifa, dan Inyong bercengkrama sedikit lalu kami berpisah, karena kami istirahat dan Inyong dan kawan-kawan tetep lanjut jalannya. Disaat istirahat itu tiupan angin semakin kencang. Dinginnya itu sampai masuk ketulang sumsum. Saya mengigil, saya kehabisan nafas. Alifa bengong melihat saya yang nafasnya mulai melambat ini. Nadia ngeluarin Oxycan. Saya hirup tabung aneh itu dan sedikit lega pernafasan ini, saya kedinginan. Akhirnya kita istirahat sebentar di pos tiga, Putut sama Nadia mebuat api untuk menghangatkan. Ternyata Alifa juga kedinginan. Saya ngeluarin selimut dari tas saya, saya tidur dengan batu sebagai bantalnya. Alifa juga ikut merebahkan badannya di sebelah saya. Karena gak tega saya bagi selimutnya. Tangan saya diremas kencang sama Alifa. Kayaknya dia kasian sama saya. Disini saya terlihat sangat lemah dan mempunyai pikiran kalok saya jadian sama Alifa terus saya yang harus dijagain Alifa. Menahan malu dan sedikit sedih. Semoga saya bisa menjadi lebih kuat. Mungkin karena saya sering merokok dan dia sudah memberi motivasi sebenarnya, tapi saya pecundang.
Nadia dan Putut membangunkan kami berdua yang mulai sedikit tertidur agar kami berdua tidak terkena hipotermia. Kami menggerakan badan saya dan Alifa mulai bangun. Lanjutlah perjalanan ini. Menahan lelah dan terus bergerak. Pos empat pun terlewati dengan usaha kami semua. Rasa lelah dan letih itu terbayar dengan keindahan alam yang diciptakan Tuhan ini. Bunga-bunga dengan warna cerah, awan yang menggumpal kental mengelilingi kami. Kita akhirnya sampai di pos lima. Kita egak bisa melihat matahari terbit karena awan terlalu banyak, tapi tidak apa-apa. Ini udah indah banget. Kami memanfaatkan saat ini untuk istirashat sebentar. Kami istirahat dan akhirnya cahaya sudah terpancar terang, sisi hangat mulai terasa dikulit ini. Kami terbangun, membeli air panas dipos lima, membuat mie untuk sarapan. Walaupun tidak termasak sempurna tapi tetep enak kok dalam keadaan ini, apalagi yang membuat mie itu Alifa. Kami foto-foto disini, saya selfi sama Alifa, biarin kalok alay. Yang penting deket-deketan sama Alifa.
Setelah melakukan hal-hal aneh tersebut kita lanjut untuk naik kepuncak. Kalok kelawu belum foto sama tugu lawunya itu sama juga bohong. Kita naik kepuncak. Ternyata medannya cukup susah karena penuh dengan pasir. Atas dasar keisengan dan coba-coba saya pun kentut. Halah. Usaha kita berhasil. Saya dan kawan-kawan sampai puncak. Dan saya tau kalok dunia itu sempit adalah di puncak lawu sempet-sempetnya ketemu temen SMA. Kami bercengkrama sebentar lalu kami lanjut foto-foto di tugu dan pemandangan sekitarnya. Saya duduk di tangga tugu lalu Alifa menyebelahi duduk di samping saya. Ini saat yang tepat buat nembak dia.
"Fa mau gak jadi pacarku? kamu taukan matahari egak selamanya bersinar, kadang kalok lelah juga meredup. Begitu pula perasaanku kalok gak kamu terima"
"Yaudah kita coba aja dulu"
"Serius fa kamu mau?"
"Iya serius aku mau, kenapa? apa egak jadi?"
"Yeeee, jangan jadian aja. Terus kita panggilannya apa? ayah bunda? papah mamah? atau sayang ajah?"
"Panggil nama biasa aja" sambil njitak kepala saya.
Terbayar sudah usaha saya mendaki lawu ini dengan diterimanya cinta saya. Yee seneng banget rasanya. Dan akhirnya saya harus melepas setatus jones saya. Mungkin para pendaki bilang "Tidak boleh meninggalkan apapun kecuali jejak" tapi sayangnya kenangan itu tertinggal di lawu. Makasih Alifa. hehe
Jumat berakhr digantikan hari sabtu. Tubuh bangun dengan kakunya karena kurangnya olahraga dan terlalu banyak menghirup asap roko dulu harinya. Merabai kamar buat mencari hp, butuh waktu lama mencarinya. Entah karena kamar saya yang terlalu berantakan dan menimbulkan maze atau hp saya bisa jalan-jalan sesuka hatinya sampek-sampek sulit buat dicari. Saya jadi paranoid sendiri. Jangan-jangan hp saya itu sebenernya hidup dan bisa berbicara tapi saya tidak paham. Aduh kenapa jadi kayak gini ceritanya. Setelah menemukan hp saya yang sempat dimakan kasur saya smsan dengan Alifa sebentar sekalian nyiapin mental buat naik nanti. Beberapa masukan dari teman-teman dan keluarga pun bermunculan. Dari teman katanya kalok naik gunung jangan lihat kebelakang nanti doamu egak terkabul sampai ada orang gaib yang jualan pernak-pernik gaib. Dari ibu, tetep egak boleh makan tanah sama disuruh berdoa biar egak diculik gendruwo. Lalu dari ayah, malahan saya disuruh manjat-manjat dulu biar hebat dan bisa dipamerin ketemen-temen kalok saya ini hebat dalam memanjat. Tentunya Ayah saya memberikan sedikit pesan sama saya "kalok ditanya temenmu siapa yang ngajarin manjat, bilang, AYAH!". Saya mengangukkan kepala, ayah saya aneh. Tapi dia tetep ayah saya yang saya cintai. Wisss.
Detik berlalu, menit juga berlalu, jam juga berlalu, kenangan dengan mantan juga berlalu(nangis sebentar). Melihati jam dan mulai mendekati angka tiga. Saya bergegas mandi. Kali ini saya mandi dengan normalnya, tidak memakai pembersih kelamin wanita atau pun mencampuradukan beberapa sampo yang terdapat dirumah. Saya mandi selayaknya manusia setengah ikan, putraduyung. Lalu saya ketemu spongebob yang sedang pacaran sama patrik dikamar mandi saya. Dan saya baru sadar kalok hayalan saya itu najis banget. Sesudah mandi saya ngecekin tas dan tiba-tiba ibu berada disamping saya yang lagi ngecekin tas dan berkata sambil menaruh sesuatu ditanganu.
"Ngga bawa ini, ini gula jawa, penting untuk kesehatanmu"
"Heem~". Kata saya bingung.
Ibu memang orangnya perhatian sekali terbukti pada saat dia lihat sinetron. Beliau selalu teriak-teriak didepan layar kaca memberi tahu apa yang seharusnya si artis sinetron itu lakukan. 'Dia dibelakangmu, tolonglah ditengok, bego!' itu kata-kata saat si cowok nyari si cewek dan si cewek lewat dibelakangnya. Lho malah mbahas sinetron. Dan jam sudah menunjukan tepat pukul tiga saya sms Alifa dan ternyata berangkatnya jam empat, mundur satu jam. Yaudah saya ngehirup nafas lalu ngeluarin nafas secara berturut-turut dalam rentan waktu satu jam tersebut. Manusiawi. Akhirnya jam empat dan saya tidak mau cerita satujam sebelumnya kegiatan apa yang saya lakukan dengan rinci. Halah. Saya sms Alifa terus disuruh berangkat kekosnya. Saya pamitan dengan orangtua, saya cium tangan dan sungkem kepada mereka. Saya berharap dikasih uang fitrah. Tapi ayah malah pengen saya cepet-cepet pergi. Hina rasanya.
Tas sudah terbawa, sarungtangan sudah terpakai, masker sudah dihadapan mulut. Langsung saya menaiki motor saya. Menuju kekosnya Alifa. Berjalan dengan pelan dan dengan groginya karena bentar lagi saya mau naik gunung. Wow. Alay. Biarin. Halah. Sampai dikos Alifa. Sms Alifa kalok saya udah didepan kosnya. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh besi-besi berjatuhan atau semacam benda berat dibalik pintu gerbang kos Alifa. Gerbang terbuka, hidungnya yang aneh mulai terlihat. Membopong tas yang lumayan besar dan menarik-narik tas carer yang besarnya bisa buat nyulik dua sampek tiga bayi orang. Dia tersenyum aneh menatap kearah saya, terus senyumnya hilang ketika dia melihat tas dan penampilan saya. Saya salah kostum.
"Kampret kamu mau kuliah? Tasmu kecil banget"
"Oh, lha, anu, aku kan praktis"
"Kamu bawa apa aja? mesti cuma bawa mie?"
"Egak yo, semua yang mbok suruh tak bawa, kecuali sleeping bed, tak ganti sama selimut"
"Bawa mie berapa? bawa minum berapa?"
"Bawa mie satu dan air dua botol tanggung"
"Angga bego, kita naik gunung butuh waktu enam jam dan turun sekitar enam jam, kamu cuma bawa mie satu nanti kelaparan mau makan apa? rumput mbok rebus?"
"Ahh lha tapi kan biar praktis gitu"
"Praktis apanya, aku gak mau tanggungan kalok kamu mati kelaparan, terus kalok kamu dehidrasi gara-gara haus yaudah ditinggal aja?"
"Aaa ya nanti gampang lah fa, Eh kamu bawa apa aja emange?". Modus pengalih perhatian.
"Nih lihat sendiri"
Saya menatap tasnya, saya buka, ada plstik yang menutupi isinya. Saya buka plastiknya lagi dan dia membawa orangtuanya juga. Hahah egak bercanda. Dia sepertinya membawa satu per tiga dari isi kamar kosnya. Komplit banget kayak mie ayam pakek telur.
"Lihat tuh, aku aja bawa mie sampek lima terus minum dua setengah liter"
Saya hening sebentar meratapi kisah saya nanti digunung akan seperti apa. Saya berdoa semoga bisa. Tiba-tiba Aifa sudah di sms Cesar buat ngumpul dulu didepan kampus. Saya mengangkat tas carer yang besar punya Cesar yang dititipin ke Alifa, menggendong tasku menghadap kedepan dan Alifa membawa tasnya sendiri. Saya kebingungan cara menaruh tas carer punya Cesar kemotor saya, yaudah kami menaruhnya apa adanya saja, eh sebisanya.
Dengan susah payahnya mengendari motor yang penuh muatan(tas biasa + tas carer raksasa + tas carer biasa + bokong Alifa). Akhirnya kami sampai ditujuan walaupun sempat dikira orang-orang pada mau pindahan rumah karena muatan saya. Kampretnya sesampainya disana ternyata masih sepi. Hanya orang-orang yang tidak kami kenal berkliaran. Kami berhenti sejenak untuk menunggu, terus si Alifa nepok pundak aku dan bilang "pret, ayo cari warung buat beli logistikmu, daripada kamu mati kelaparan".
Yaudah akhirnya saya dan dia mencari warung dideket kampus. Nemu warung terus kita beli beberapa mie dan beberapa air minerl botol tanggung. Setelah membeli perlengkapan logistik kami pun beranjak ketempat sebelumnya. Kami berdua duduk didepan kampus sambil nungguin orang-orangnya. Tiba-tiba Cesar dan Fany datang. Mereka ketawa-ketawa terus ngeletakin tas besar terus pergi pamitan mau cari makan dulu. Kami ditinggal berdua lagi. Disaat itu saya manfaatkan buat nembak Alifa lagi. "Fa, jadian yukk". Dan akhirnya dijawab "Gak". Yah siklus banget, gitu-gitu terus.
Setelah nungguin lama tiba-tiba ada cowok berbadan kurus dan berkacamata memboncengkan gadi gempal dan pendek. Dia temennya Alifa yaitu mas Putut dan mbak Nadia. Pertama saya masih belum mengenal mereka. Kita ngobrol-ngobrol sebentar walaupun hanya mereka bertiga yang ngobrol dan saya di asingkan karena mirip Alien. Dan akhirnya terdengar adzan maghrib. Mas Putut dan mbak Nadia solat duluan. Saya dan Alifa yang menjaga tas-tas yang berhampuran dan berisikan peralatan berat. Lalu entah kenapa ada suara motor yang mulai mendekat dan setelah kami tengok ternyata ada Cesar dan Fany. Yaudah kami suruh mereka jaga barang bawaan dan saya dan Alifa mau sholat maghrib duluan. Kita boncengan terus sholat maghrib di masjid Nurul Huda belakang UNS. Setelah Sholat selesai perut saya seakan-akan memberontak ingin mengeluarkan sesuatu, sepertinya bayi. Ternyata saya melahirkan. Kampret apaan ini. Yaudah saya pun pergi kekamar mandi buat persalinan, eh poop maksutnya. Seperti biasa jika saya di kamar mandi dan sedang jongkok termenung, biasanya saya berhayal tentang sesuatu, entah masa depan atau cerita aneh. Disana saya membayangkan kalok saya diterima jadi pacarnya Alifa terus kami menikah terus kami punya anak dan anaknya laki-laki terus tak jual soalnya saya pengen punya anak perempuan. Jahat banget. Setelah proses persalinan saya selesai saya langsung keluar dari masjid. Disana saya sedang memandangi si Alifa yang sedang duduk di tangga masjid, mungkin Alifa sedang pacaran sama jin. Ternyata Alifa seorang dukun, ehh apasih. Egak, Alifa duduk nungguin saya selesai. Saya menghampiri dia. Kita naik motor dan dia bertanya dan terjadi sedikit perbincangan antara Alien dengan majikannya.
"Kamu lama ngapain?" kata Alifa sambil membonceng saya.
"Oh, tadi cuma poop di wc, jagain biar nanti egak kebelet poop pas naik gunung"
"Ih njijikin, emang kamu bisa poop di sembarang wc?"
"Bisa lah, kan semua wc sama aja"
"Aku sih gak bisa kalok poop di wc sembarangan"
"Kenapa? kan cuma menanggalkan celana terus jongkok dan diselingi dorongan pada otot perut dan lubang pantat kan"
"Jijik" kata Alifa sambil memukul pelan kepalaku, sampai bayi-bayi alien dalam telinga saya keluar berceceran. Halah mulai lagi.
Sampai di tempat kita semua berkumpul. Saling tatap dan saling menunggu adanya belas kasian dari milioner untuk ngasih mobil kepada kita. Maaf gak nyambung. Kita semua mengambil barang bawaan dan tas carier kita yang berisikan barang berat dan janin manusia usia tiga bulan. Alifa membawa tasnya yang lumayan berat dan tas saya yang enteng dibawa Fany dan tas carier Cesar ditaruh di bagian depan motorku. Kami pun berangkat menuju tempat tujuan kita yaitu Cemoro Kandang pintu masuk untuk ke gunung Lawu. Dalam perjalanan saya dan Alfa selalu bercanda gitu dan dia enggak pernah absen dengan pemukulan tangannya kehlem saya disaat saya bicara ngelantur. Saya yakin kalok dia sebenernya laki-laki atau mungkin Alifa itu adalah bapak Wiranto yang lagi menyamar, saya ditimpa kepanikkan dan kegelisaan karena saya sempat berfikir seperti itu. Diperjalanan ini kita udah sampai di daerah tawangmangu. Disini gelap banyak pepohonan. Alifa takut dan jalanan terjal. Setelah beberapa menit melalui perjalanan itu kami sampai di basecamp gunung Lawu.
Mengistirahatkan diri sejenak di basecamp lalu beli bakso anget buat asupan karena perut sedikit keroncongan. Alifa mendekati saya dan berkata "Ngga kayaknya ada Inyong". Inyong itu sebutan dari teman saya yang bernama Rahmat yang berasal dari Banyumas. Saya sedikit pengen tahu beneran Rahmat apa bukan, bisa-bisanya sampai kesini. Setelah bakso yang tiba-tiba lenyap dari mangkok kami pun pergi kemasjid diseberang jalan. Saat menengok ke ujung jalan ternyata beneran ada si Inyong kami berdua pun berteriak sekuat tenaga "INYONG!" dan yang menjawab bukan hanya Inyong tapi teman-temannya juga, ternyata semua teman Inyong itu adalah mahkluk dari Bayumas. Iya lah mereka semua nyaut kan Inyong itu artinya aku dalam bahasa sana. Mati gaya kami berdua, kepala menunduk meratapi tanah yang seolah-olah berkata "Mampus habis ini kamu bakalan dimasa sama anak-anak Banyumas". Akhirnya kami pun sholat dan berharap selamat untuk naik gunung dan tidak terkena ancaman dari masa Banyumas. Sesudah sholat dengan air dingin untuk wudu yang dapat membekukan otak, kami pun berlanjut jalan ke basecamp dan ternyata gerombolannya si Inyong udah tidak ada, sedikit lega.
Kita semua bersiap-siap memkai peralatan dan si Fany bilang jangan pakek jaket dulu nanti kalok kedinginan gak ada yang ngangetin lagi. Dalam pikiran saya semoga Alifa memeluk saya dan menghangatkan saya, tapi, assudahlah. Saya melihat banyak gerombolan disini, dari anak SMA, terus para mapala, dan juga Dukun kayaknya. Kami masuk dan Alifa yang menanggung uang masuknya. Kami membentuk lingkaran selayaknya tim sepak bola yang akan bertanding dan berdoa bersama tetapi bukan doa yasin.
Kami mulai melangkahkan kaki setapak demi setapak, baru lima tapak paru-paru saya udah meronta-ronta minta pacar baru, duh bego kan. Sangat melelahkan sekali jalanannya, padahal paru seratus meteran kringat saya udah pada keluar. Medan malam itu sangat gelap sekali tapi tiba-tiba ada cahaya bulat yang bisa menerangi jalan, saya berfikir ternyata mata saya bisa mengeluarkan cahaya, saya orang terpilih seharusnya saya diikutkan menjadi the avanger. Setelah saya menengokkan mata kekiri ternyata cahaya itu berasal dari lamu senter si Cesar yang sangat terang. Keinginan saya untuk menjadi the avanger pupus. Tapi niat saya buat dapetin Alifa masih kokoh tegak berdiri.
Saat melakukan perjalanan itu kondisi medannya sangat gelap sehingga kami tidak tau apakah medannya terjal, landai, atau berbukit. Tapi semua itu tidak akan menghentikan kita meskipun negara api menyerang meskipun negara Berazil menang piala dunia 5 kali ataupun negara Indonesia menjadi tempat tinggal saya. Tapi kenapa malah jadi ngurusi negara. Ahh taik. Ini masalah naik gunung bukan naikin berat badan, halah lagi. Kondisi medannya yang lumayan sulit karena kita juga mengejar waktu agar bisa melihat matahari terbit membuat kita menjadi lebih semangat untuk mencapai puncak.Tetesan keringat yang dingin karena suhu gunung menetes sedikit demi sedikit, punggung baju yang sedikit demi sedikit mulai basah kuyup. Medan yang menanjak selalu dipenuhi oleh pemandangan pantat Alifa yang besar yang seakan-akan mau berubah menjadi batu gunung.Sangat egak kebayang kalok tiba-tiba Alifa jatuh dan menimpa saya, terus pantatnya yang besar itu melindas kepala saya, Uhh mantab bisa gagar otak. Tapi Alifa orangnya kuat lho, dia membawa tas carrier saya yang kecil ples pantatnya yang bebannya kayaknya melebihi tas carrier yang besar yang saya bopong ini.
Kita berenam terus berjalan sampai pada pos bayangan satu, iya masih harus nglewati lima pos lagi baru sampai puncak. Dan ironisnya ini baru pos bayangan, tapi ini ada posnya dan egak cuma bayangan. Saya curiga lalu saya sentuh bangunannya ternyata bukan bayangan tapi semen. Yaudah saya laper dan mengeluarkan roti yang saya beli tadi. Saya bagikan ke Alifa dan teman-teman, kita makan dengan lahapnya. Energi kita terkuras deras. Tapi energiku selalu bertambah saat melihat Alifa yang duduk disampingku ini, bukan disamping pak kusir lalu tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk suara sepatu roda, lho kan. Cukup istirahat kita beranjak bangun. Saya meraih tangan Alifa untuk membantunya berdiri. Asal kalian tau mbantu Alifa berdiri dan berhasil itu rasanya jiwa kelelakian saya udah diakui alam.
Berjalan ringan sambil tertatih dan suhu udara semakin dingin. Kita semua hanya berjalan tak menentu kondisi yang terfokus pada jalan setapak. Terkadang kita harus berkata "Strong mas/mbak" kepada pendaki lain, kita harus beristirahat bersama pendaki lain dan bercengkrama sebentar walau gelap menutupi wajahnya sehingga kita egak tau wajahnya itu kayak unyil atau egak. Sedikit demi sedikit air bekal kita minum dan mulai menipis, atau satu botol di tas saya dan kami menghematnya. Untung ada Alifa yang mengingatkan untuk membeli minuman itu, coba saya cuma bawa dua botol air tanggung mesti cadi canggung dan deidrasi terus berubah menjadi spiderman karena digigit laba-laba berkepala kaki. Njir mulai kan gajenya.
Pos satu terlewati cukup melelahkan rasanya, tapi melihat wajah Alifa yang dipenuhi keringat menjadikan dia tampak lebih cantik alami. Egak tau apa yang bikin wajahnya jadi cantik gitu apakah karena dia memang cantik atau karena saya suka sama dia. Yang penting ini bukan urusan DPR, benerkan?. Di pos ini kami istirahat dan membeli teh hangat sehabis itu kami melanjutkan perjalanan kami. Terkadang saya mengusap keringat Alifa yang menetes sedikit demi sedikit. Kadang juga saya meraih tangannya untuk membantunya menaiki tanjakan. Terdengar suara orang banyak, ternyata kita udah sampek di pos dua. Di pos ini si Fany agak egak enak badan, dia kecapekan dan gak bisa melanjutkan perjalanannya. Fany dan Cesar mendirikan tenda dipos dua ini. Mereka istirahat nyenyak dan kami berempat harus melanjutkan perjalanan buat mengejar sunset, eh sunset apa sunrais ya? ah bodoh. Melihat matahari terbit.
Kami berempat yang sudah ditinggal Fany sama Cesar istirahat melanjutkan perjalanan kami. Tiba-tiba terdengar orang bicara dengan logat ngapaknya. Suaranya sangat jelas kalok itu Inyong (baca; salah panggil). Tapi si Inyong lagi tiduran sama temen-temennya, mereka juga beristirahat tetapi mereka kayaknya mau mengemasi barang. Ah peduli amat saya cuma mendebatkannya dengan Alifa dan kita kembali berjalan sedikit demi sedikit lama-lama kentutnya Nadia keras banget, halah. Tapi ini beneran. Kami semua berasa alam banget, kita egak tanggung-tanggungnya ngeluarin gas bau bersuara dan pipis sembarangan, tapi ingat kita pipis sembarangannya tetep sembunyi-sembunyi egak dilihatin ketemen-temen atau dipamerin kalok kami punya kelamin buat pipis.
Dan entah kita yang banyak istirahat sedikit berjalan tiba-tiba terdengar orang bercengkrama dengan nada ngapak dan benar itu Inyong.
"Eh Inyong" kata Alifa dan egak dianggap si Inyong dan malah si Inyong nyamperis saya sambil bilang
"Lho Ngga masih idup kamu". Nada ngapak yang bikin gondok karena susunan kata-kata mutiaranya membuat saya diketawain Alifa. Saya, Alifa, dan Inyong bercengkrama sedikit lalu kami berpisah, karena kami istirahat dan Inyong dan kawan-kawan tetep lanjut jalannya. Disaat istirahat itu tiupan angin semakin kencang. Dinginnya itu sampai masuk ketulang sumsum. Saya mengigil, saya kehabisan nafas. Alifa bengong melihat saya yang nafasnya mulai melambat ini. Nadia ngeluarin Oxycan. Saya hirup tabung aneh itu dan sedikit lega pernafasan ini, saya kedinginan. Akhirnya kita istirahat sebentar di pos tiga, Putut sama Nadia mebuat api untuk menghangatkan. Ternyata Alifa juga kedinginan. Saya ngeluarin selimut dari tas saya, saya tidur dengan batu sebagai bantalnya. Alifa juga ikut merebahkan badannya di sebelah saya. Karena gak tega saya bagi selimutnya. Tangan saya diremas kencang sama Alifa. Kayaknya dia kasian sama saya. Disini saya terlihat sangat lemah dan mempunyai pikiran kalok saya jadian sama Alifa terus saya yang harus dijagain Alifa. Menahan malu dan sedikit sedih. Semoga saya bisa menjadi lebih kuat. Mungkin karena saya sering merokok dan dia sudah memberi motivasi sebenarnya, tapi saya pecundang.
Nadia dan Putut membangunkan kami berdua yang mulai sedikit tertidur agar kami berdua tidak terkena hipotermia. Kami menggerakan badan saya dan Alifa mulai bangun. Lanjutlah perjalanan ini. Menahan lelah dan terus bergerak. Pos empat pun terlewati dengan usaha kami semua. Rasa lelah dan letih itu terbayar dengan keindahan alam yang diciptakan Tuhan ini. Bunga-bunga dengan warna cerah, awan yang menggumpal kental mengelilingi kami. Kita akhirnya sampai di pos lima. Kita egak bisa melihat matahari terbit karena awan terlalu banyak, tapi tidak apa-apa. Ini udah indah banget. Kami memanfaatkan saat ini untuk istirashat sebentar. Kami istirahat dan akhirnya cahaya sudah terpancar terang, sisi hangat mulai terasa dikulit ini. Kami terbangun, membeli air panas dipos lima, membuat mie untuk sarapan. Walaupun tidak termasak sempurna tapi tetep enak kok dalam keadaan ini, apalagi yang membuat mie itu Alifa. Kami foto-foto disini, saya selfi sama Alifa, biarin kalok alay. Yang penting deket-deketan sama Alifa.
Setelah melakukan hal-hal aneh tersebut kita lanjut untuk naik kepuncak. Kalok kelawu belum foto sama tugu lawunya itu sama juga bohong. Kita naik kepuncak. Ternyata medannya cukup susah karena penuh dengan pasir. Atas dasar keisengan dan coba-coba saya pun kentut. Halah. Usaha kita berhasil. Saya dan kawan-kawan sampai puncak. Dan saya tau kalok dunia itu sempit adalah di puncak lawu sempet-sempetnya ketemu temen SMA. Kami bercengkrama sebentar lalu kami lanjut foto-foto di tugu dan pemandangan sekitarnya. Saya duduk di tangga tugu lalu Alifa menyebelahi duduk di samping saya. Ini saat yang tepat buat nembak dia.
"Fa mau gak jadi pacarku? kamu taukan matahari egak selamanya bersinar, kadang kalok lelah juga meredup. Begitu pula perasaanku kalok gak kamu terima"
"Yaudah kita coba aja dulu"
"Serius fa kamu mau?"
"Iya serius aku mau, kenapa? apa egak jadi?"
"Yeeee, jangan jadian aja. Terus kita panggilannya apa? ayah bunda? papah mamah? atau sayang ajah?"
"Panggil nama biasa aja" sambil njitak kepala saya.
Terbayar sudah usaha saya mendaki lawu ini dengan diterimanya cinta saya. Yee seneng banget rasanya. Dan akhirnya saya harus melepas setatus jones saya. Mungkin para pendaki bilang "Tidak boleh meninggalkan apapun kecuali jejak" tapi sayangnya kenangan itu tertinggal di lawu. Makasih Alifa. hehe
Ciyeeeee
BalasHapus