Jumat, 19 September 2014

Siklus!

Jika kalian tau segala sesuatu itu ada siklusnya, gak hanya hujan aja yang ada siklusnya. Tapi kehidupan juga mengalami yang namanya siklus. Dari yang pertamanya sayang duluan sama si doi dan si doi egak sayang gantian jadi yang si doi yang sayang ke kita sedangkan kita udah gak sayang ama doi. Dari yang waktu kecil sering diajak ayah jalan-jalan, gantian pas ayah udah tua kita yang gantian ngajak jalan-jalan beliau. Saya akan mengambil sedikit perkataan dari dosen saya "Sesungguhnya segala sesuatu itu tidak ada yang tetap dan selalu berubah atau kembali". Iya itu bener, misalnya model pakaian. Yang pas waktu jaman jepang yang lagi trend adalah kemeja cowok dengan motif bunga terus berganti kejaman semi-semi alay dengan kemeja kotak-kota warna terang dan sekarang kembali lagi ke kemeja bermotif bunga lagi. Iya itu termasuk siklus menurut saya.



Saat ini saya akan bercerita tentang cinta. Iya cinta. Cinta dari eyang saya kepada saya. Eyang saya adalah orang tua yang paling otoriter menurut saya. Selain itu beliau juga etnosentris terhadap budaya jawa. Pokonya kami (saya, kakak saya, dan adik saya) selalu dipaksa untuk bersikap selayaknya orang jawa. Padahal kami bukan keturunan ningrat. Ya begitulah cara berfikir orang tua yang hidup dijaman lampau. Dan tersebut sudah mendarah daging pada orangtua yang hidup di tanah jawa. Coba aja lihat atau rasain bagi kalian yang memiliki kakek nenek dari jawa. Mereka akan mengajarkan sopan santun ala jawa, terlalu posesif, dan selalu yang paling benar.

Beliau adalah eyang terbaik bagi saya, eyang putri bukan eyang kakung. Eyang kakung meningal pada saat ayah saya berumur sekitar 16 tahunan. Dan paling epicnya eyang putri egak pernah cari suami lagi padahal eyang waktu itu msih mudah. Dan kata temen-temen eyang, eyang dulu pernah dilamar sama beberapa orang tapi eyang gak mau. Ya itu namanya cinta, hidup untuk orang yang dikasihi, untuk anak, bahkan tetap setia menjaga hati dari almarhum eyang kakung. Saya salut dengan eyang saya jika bicara tentang kasih sayangnya terhadap suami. Tipe wanita yang baik bagi suami dan tipe seorang eyang yang tidak enak bagi cucu-cucunya karena terlalu mengekang, tapi tetep sayang banget sama cucu-cucunya heheh.

Waktu kecil dulu eyang saya yang mengasuh saya saat ayah dan ibu kerja. Ayah saya kerja dikantor di deket solo squaer dan ibu saya jualan baju di pasar klewer. Mau gak mau eyang saya yang harus merawat saya dan kakak saya. Ekonomi kami dulu cukup sulit, sehingga harus ayah sekaligus ibu yang bekerja. Dan rumah eyang saya dan saya berhadap-hadapan, jadi sangat mudah untuk memberikan asuhan kami kepada beliau.

Oh iya sebelum bercerita tentang eyang tercinta saya, saya akan menceritakan tentang teman saya yang bernama Angky. Iya sodara sepersusuan, hehe iya itu kalok orang muslim netekin anak orang maka dia akan jadi sodara. Temen saya Angky ini adalah temen terbaik saya. Kami kenal sejak bayi dan dengan nama pangilan yang hampir sama (Angga dan Angky) cuma beda dua huruf dibelakang. Saya punya cerita, waktu kecil dulu saya agak benci sama Angky karena dia selalu dapet rangking sepuluh besar terus sedangkan saya tidak. Iya saya tau jika rangking bagus itu harus rajin-rajin belajar. Tapi kenapa saya tidak suka itu karena saya selalu dibanding-bandingkan sama Angky oleh ibu saya. Angky suka makan sayur saya tidak maka saya akan dimarahin dan ibu selalu bilang "Mbok seperti Angky suka makan sayur biar bintar". Terus ada lagi pas Angky buang air besar terus dicebokin ibunya, ibu saya bilang "Mbok kayak Angky dicebokin sama ibunya". Nah kan. Ya pokonya selalu disama-samain, tapi saya tetep temen baik buat dia. Waktu kecil saya suka main sepeda-sepedaan. Saat itu kami berumur sekitar 5 atau 4 tahunan. Iya waktu itu kami masih belum TK dan kami egak naik sepeda roda dua tapi sepeda roda tiga, ya istilahnya bajaj versi sepeda, halah. Itu sepeda ada tongkat buat ndorong gitu. jadi setiap gang gantian yang ndorongin tuh sepeda. Saya naik dan Angky yang mendorong. Berganti gang ikut berganti posisi kita juga. Waktu itu di gang Kenanga aman-aman saja, kami sudah menguasai lapangan. Iya karena kami tingal di gang tersebut. Terus berlanjut ke gang Melati. Gang tersebut belum kami kuasai kondisinya, kami tandang disitu. Kami pakai baju away bukan haway. Waktu di gang itu saya yang didepan dan Angky yang mendorong. Tiba-tiba datanglah karinifora yang dipelihara orang lain tanpa di rantai, khalayak umum sering memangilnya anjing. Anjing hitam dengan badan kurus kelaparan, berkalung merah, dan liur yang mengalir bagai grojokan sewu. Dengan tajamnya melihat kami berdua, seakan-akan seperti daging ayam guling yang dilengkapi dengan sambel ijo dan bumbu kuning di goreng dengan api sedang dan minya penuh seketika juga si anjing itu mengejar kami. Saya dan Angky yang melihat predator itu mendekati kami seketika juga meningalkan sepeda kami dan lari pontang panting sambil menangis menuju rumah. Angky berlari selayaknya atlet dan saya berlari selayaknya bencong yang dikejar satpol pp. Kami lari sampai rumah dan anjing itu hanya mengejar sampai keujung gapura gang Melati. Saya berfikir bahwa anjing itu hanya memiliki wilayah yang halal hanya di gang Melati. Di luar gang Melati adalah batas suci, maka si anjing harus wudu dahulu buat masuk batas suci.

Saya dan Angky memeluk ibu saya dengan badan gemetar seakan-akan getaran tersebut bisa memicu tsunami, ah lebeh. Kami memeluk ibu saya sambil menangis.
Saya : "Ibu aku di kejar sama anjing"
Angky : "Iya bu, anjingnya kayak Angga bu"
Saya : "Apaan sih kamu, ini ibuku, kamu pergi"
Angky : "Egak ibuku juga"
Bangeknya kami malah rebutan ibu setelah Angky menghina saya haha. Ibu saya melerai dan bilang diambil lagi sepedanya dan disuruh bawa batu, yaudah saya cari batu di deket rumah eh si Angky malah cari semen untuk membuat batu yang lebih besar, njirrr. Sesudah membawa batu atau yang lebih tepatnya kerikil karena kami masih kecil dan egak kuat ngangkat batu besar dan dirumah kami juga gak ada batu besar makanya si Angky cari semen buat membuat batu besar, halah. Dengan menggengam kerikil dikepalan tangan kami dan kepala yang di tutupin topeng power ranger yang beli di sekaten. Kami berasa seperti power ranger yang membawa senjata nuklir untuk membunuh monster yang berada di gang Melati dan merebut kendaraan super kami.

Kami berjalan pelan-pelan menuju gang Melati. Iya kami berjalan pelan-pelan karena takut, iya takut. Sesampainya di gang si Anjing melihat kami lagi dan dengan wajah kelaparan mau menyantap kami berdua. Tapi kayaknya mau makan Angky deh, soalnya dia dulu lebih gemuk dari saya. Saat anjing itu berlari dengan birahinya menuju kami tiba-tiba ada seorang kakek-kakek berambut putih dan memakai sarung mengusir anjing tersebut. Gak tau kenapa anjing tersebut lari. Dan kakek itu adalah malaikat penolong bagi kami, sepeda kami disimpan kakek itu dan kami disuruh masuk rumahnya, rumahnya megah bro. Kami dikasih teh anget sambil cerita-cerita tentang anjing. Menurut saya beliau adalah pakar anjing.

Beliau menyuruh saya masuk dan bercerita tentang cucunya yang ada di jakarta atau dimana gitu, saya lupa. Disana kami juga diajarkan cara mengantisipasi melawan anjing dengan baik dan benar. Yang pertama jika badan kalian kecil kalian jangan sekali-kali melihat mata si anjing, karena anjing berfikir kalok kalian itu suka anjngnya dan aneh jika si anjing yang menyukai adalah manusia dan bukan sesama anjing, apa lagi kalok manusia dan anjingnya sama-sama laki-laki pasti anjingnya gak terima. Anjir ngarang banget. Intinya jangan sekali-kali melihat mata anjing jika belum mengenal. Yang kedua jika anjing mendekat lekaslah jongkok, karena anjing tidak suka dengan orang yang eek sembarangan. Anjir ngawur lagi, bukan itu. Tapi saat kalian jongkok maka si anjing mengira anda akan melemparnya dengan eek, halah. Yang terakhir jika kalian sudah di kejar anjing dan kecepatan anda kalah dengan si anjing, yaudah hubungin dokter buat ngasih obat suntik rabies. Simpel sekali.

Setelah bercengkrama panjang lebar yang memberi tips tentang anjing kami pun menyadari ternyata anjing itu egak sama sekali mirip kucing, njir. Intinya pencerahan yang dikasih si kakek itu bermanfaat beda sama pencerahan yang saya kemukakan di atas, berbahaya. Sebenarnya banyak yang ingin tau apa sih yang dibicarakan si kakek itu kepada kami, tapi saya tidak akan membongkar perkataan kami disini karena saya sudah lupa dengan apa yang dikatakan kakek tersebut kepada dua bocah kecil yang takut anjing. Yang satu bocah kecil pada umumnya dan yang satu lagi bocah dengan sedikit kebencongannya yang udah nampak, jelas yang bencong itu bukan Angky.

Itu cerita sewaktu kita belum menginjak TK. Masa dimana pampers sangat nikmat melekat dikelamin kami, dimana eek bisa kita keluarkan sewaktu-waktu, dimana berlari telanjang sambil mamerin titit saya dan Angky ke tetangga masih dianggap wajar. Tapi saat itu kami sudah TK. Kami harus bisa lebih sedikit dewasa dari bocah-bocah yang sering tidur telanjang di teras rumah. Tapi sebenernya saya itu lebih tua setahun dari Angky tapi kami masuk TKnya barengan gitu. Soalnya dulu ibu saya mau masukin saya TK barengan sama tetangga saya namanya Usus dan saya egak mau, egak mau masuk TK kalok gak bareng sama Angky saya egak mau masuk Dan pada saat oprek TK ternyata parahnya kami tetap dipisahkan keberadaannya. Angky masuk TK Pertiwi dan saya masuk TK Aisyiyah. Mungkin ibu saya dan ibunya Angky sudah tau keberlanjutan dan keadaan TK jika kami bersama (bukan lagunya SID). Mungkin kalok kita satu TK mungkin kita bikin organisasi anak TK yang diketuai oleh Snoopy dan saya serta Angky sebagai wakilnya. Kegiatan yang mungkin dilakukan dalam kegiatan tersebut adalah sesuatu yang mirip gangstar gitu. Kita merakit senjata dan senapan, menjual belikan ganja dan heroin, lalu menjual belikan anak serta wanita. Jadi anggota kami yang mayoritas anak TK kecuali Snoopy yang notabenenya adalah seekor anjing gambaran yang disukai oleh para anak TK. Dan asal kalian tau itu adalah strategi saya dan Angky untuk merekrut para bocah-bocah suci itu.Maka ibu saya dan ibu Angky pergi ke PKK barengan gitu. Anjir. Jadi hal-hal yang mungkin terjadi di atas jika saya dan Angky dipersatukan membuat ibu kita tidak ingin kita bersama. Selain itu takutnya para guru dikuasai sedangkan murid-murid yang masih bocah itu menjadi liar dan kanibal. Maaf ceritanya jadi gini.

Setelah kami tau bahwa kami dipisahkan. Kami sering galau, sering banget mbuat status di facebook, dan sering makan maichi yang pada saat itu belum ada. Kami punya Doraemon. Halah. Angky adalah orang yang pandai dalam bermain sedangkan saya adalah pecundang anak-anak. Sering dipanggil "untul bawang" sejenis anak yang tidak dianggap dalam permainan tetapi masih saja ngeyel buat ikut. Disaat anak-anak pada main petak umpet, Angky anak yang paling jago bersembunyi dan menemukan lawan mainnya. Daya penciumannya sama seperti semut, jadi setiap ada gula ada dia. Matanya sangat tajam dan runcing sehingga waktu pencoblosan legeslatif ibunya makek matanya Angky buat nyoblos pilihannya. Lalu dia orang yang pandai bersembunyi. Dia sering bersembunyi di rumah. Dia curang. Beda dengan saya. Saya mencari saja bisa sampek temen-temen pada ngantuk bersembunyi sehingga keluar dengan sendirinya dan pulang. Lha pas sebunyi saya hanya menyembunikan kepala saya, sedangkan pantat saya memamerkan dirinya di kalayak umum. Makanya pada akhirnya saya hanya dijadikan pecundang dalam permainan. Njir.

Tetapi hal-hal bahagia bersamanya sering banget saya alami. Dulu kan saya punya penyakit paru-paru basah, waktu SD dan dia selalu membopong saya kerumah saat penyakit saya kumat. Karena badannya lebih besar. Dia teman baik saya. Walaupun waktu SD udah banyak cewek yang suka sama dia. Sedangkan saya?. Nah deket cewek aja langsung eek sembarangan. Makanya para cewek egak begitu suka dengan saya. Terus kalok Angky itu pas SD pinter, ikut lomba futsal, sama lomba baca puisi. Saya tetep sebagai penontonnya Angky. Makanya si Angky banya cewek yang ndeketin waktu itu. Oh iya lupa cerita. TK pun berlalu, saya dengan Angky dipersatukan lagi di SDN 6 Ngringo. Di SD ini kami disangka kakak adekan gitu. Bukan kakak adekan terus akhirnya kakaknya nembak adeknya terus jadian. Bukan itu. Mungkin karena nama kami hampir mirip dan kami sering berangkat barengan gitu sehingga mereka menilai dan membuat kesimpulan kalok kami itu kakak adekan.

SD berlalu dan berganti SMA. Disini kami dipisahkan lagi. Saya masuk SMPN 10 Surakarta sedangkan Angky masuk SMP Muhamadiyah 1 Surakarta. Disini kami memiliki sedikit cerita karena kami beda sekolah dan sudah menemukan teman-teman baru. Walaupun kalok berangkat sekolah bareng terus sama Angky. Pas njemput saya dikirain dia kakakku juga. Mungkin karena badannya yang lebih tinggi dari saya. Oh iya kita pas SMP ikut latihan voli di Solo. Kami berempat yang ikut. Maksudnya temen saya yang deket itu tiga ditambah saya menjadi empat. Halah cukup. Iya yang ikut itu adalah saya, Angky, Adam, dan Fian. Saya dan Adam selalu bolos voli dan malah mainan PS. Makanya tinggi bdan saya dan Adam kalah sama Fian dan Angky.

Disini disaat SMA kami disatukan kembali di SMA WARGA. Kami mulai menjauh. Kami mulai memiliki kesibukan sendiri. Saya punya band dan dia punya vespa. Kami sudah berbeda dan kami sudah remaja. Waktu kelas satu saja kami sudah tidak dekat. Dia punya teman barunya sendiri yang suka main-main jauh. Sedangkan saya punya teman yang sukanya nongkrong dan membuat lagu. Pas kelas satu kami berbeda kelas. Terus kami lanjut kekelas dua dan kami satu kelas. Pada semester awal dia sering masuk. Lalu pada waktu latihan voli dianya. Dan saya keluar pada waktu itu. Si Angky dan Fian mengalami kecelakaan. Saya tidak tau permasalahannya tetapi Angky dan Fian cuma ngalami luka gores.Tetapi dada Angky membengkak karena bertabrakan dengan stang motornya. Dan saat itu Angky sering batuk-batuk dan dia jarang masuk sekolah. Saat akhir semester kelas dua itu diadakan studytour kebali dan Angky tidak ikut karena sakit. Sehabis studytour saya mendapati kabar bahwa Angkyi paru-parunya kena tumor. Saya tidak percaya akan semua itu. Kenapa harus teman baikku. Waktu itu saya anter jemput Angky buat masuk taun ajaran baru di kelas tiga. Badannya yang dulu lebih gemuk dari saya sekarang menjadi kurus. Wajahnya pucat sambil menahan rasa sakit di dadanya. Saya sebenernya tidak menyangka orang yang sering berolah raga seperti dia terkena penyakit tersebut. Dia hanya masuk tiga hari sewaktu kelas tiga. Hanya sebulan saya sering jenguk Angky di rumahnya. Lalu saya tidak pernah lagi jenguk Angky karena kesibukan saya yang sudah menginjak kelas tiga. Ada tambahan pelajaran yang memungkinkan saya untuk pulang sore dan les malam. Dan pada suatu hari ibunya si Angky datang ke eyang saya dan menangis beliau bilang "Yang, Angky yang, dia bilang udah gak kuat". Saya waktu itu cuma nguping doang. Terus eyang saya menghampiri saya dan bilang "Ngga Angky dijenguk lagi sana". Saya menjawab dengan iya dan saya izin les kalok saya nanti terlambat. Di rumah Angky saya melihat dia tertidur lemas dengan badan kurusnya yang sangat lemah itu. Dadanya membesar, bagian kanan tangannya juga membesar, lalu bagian kanan matanya juga membesar. Bicaranya lirih. Saya mengangis didepannya tapi saya malah diketawain. Dia memang orang kuat, yang sakit siapa yang sedih siapa. Tapi saya sungguh kasian sama dia. Katanya ibunya dia pengen sekolah bareng saya lagi. Itu yang membuat saya sedih. Malemnya saya langsung memberi kabar kepada teman-teman saya buat njenguk Angky. Sepertinya dia butuh semangat dari teman-temannya juga. Seusai sekolah kami berkumpul dilapangan dan parkiran lalu kami menjenguk Angky. Sesampainya di rumah Angky banyak wanita yang menangis melihat kondisi Angky. Saya juga menangis. Saya melihat bolah voli di sebelah tempat tidur Angky. Bolanya sudah berdebu, sepertinya karena Angky sudah tidak pernah latihan. Saya mengambilnya dan melemparkan ringan kepada Angky dan ditangkapnya lalu saya bilang "Ayo Ky voli lagi kaya waktu SMP duu, katanya mau jadi pemain voli terkenal?" sembari ucapan itu tertutup dari mulut saya saat itu juga air mata dan tangis saya yang keras keluar. Saya melihat Angky dan dia hanya mengajukan jempolnya kearah saya. Dia tersenyum kepada saya. Itu sedih banget rasanya seakan gestur wajahnya mengucapkan selamat tinggal. Kami semua pulang dan selang beberapa jam sekitar dua jaman ibu saya memberi kabar kalok Angky udah egak ada. Mata saya melelehkan air mata. Hati saya berasa sakit. Kenapa harus teman deket sewaktu saya kecil. Saya berlari kerumahnya dan ambulannya belu datang. Keluarganya menangis.

Keesokan harinya adalah hari pemakaman Angky. Saya membopongnya sampai kuburan. Melihat dia tertidur berselimut tanah. Ayah dan adiknya menangis, ibunya tidak ikut. Lalu saya merasa jika hidup itu benar-benar siklus. Semua terjadi lalu kembali terulang. Dulu yang badanya Angky lebih gemuk jadi lebih kurus. Dulu yang Angky sering membopong saya saat sakit disekolah dan pulang kerumah berganti menjadi saya yang membopong Angky dari kehidupan yang penad dan pulang kerumah asalnya diciptakan. Semoga kau damai bersama Tuhan Angky


Tidak ada komentar:

Posting Komentar