Jumat, 09 Mei 2014

Pecinta dangdut

Keluarga saya yang sangat dan fanatik terhadap dangdut hanya ibu saya sedangkan ayah dan saya beserta sodara menolaknya dari kehidupan. Entah kenapa tetapi saya sangat tidak suka dangdut. Karena jika saya pecinta atau penikmat dangdut sangat repot jika harus menonton konser dangdut. Saya harus memakai hlem dan ada istilah "Senggol bacok" sangat menakutkan. Jadi didalam konser dangdut itu jika berjoget harus ada jarak agar tidak saling senggol jadi perlu merentangkan kedua tangan sebelum konser dangdut dimulai selayaknya baris berbaris.

Tapi ada kejadian aneh seputar dangdut terhadap ayah saya. Tapi sebentar saya mau cerita tentang ayah saya. Ayah yang tak jauh berbeda anehnya dengan saya. Pokoknya aneh.



Ayah saya adalah ayah yang sangat irit. Waktu dulu saya pernah minta dibeliin celana panjang. Tetapi setelah dia pulang dia membawa bungkusan kotak sedengan. Dan ekspetasi saya waktu itu lebih.
"Yeee akhirnya punya celana baru!" Teriak saya menuju ayah saya lalu memeluk dengan sedikit air mata yang keluar dari mata saya dan saya sangat terharu atas usaha ayah saya yang dengan segannya membelikan saya celana panjang.
"Iya, ayah tau kebutuhanmu nak" Sambil menepuk ringan kepala saya. Mungkin ayah saya lebih ingin membacok saya daripada menepuk ringan kepala saya.
Saking gembiranya saya pun lekas membuka kotak tersebut dan isinya adalah.....
a. celana jeans
b. celana cino
c. julia peres
Kampret ini bukan soal ujian nasional yang membuat siswa-siswanya pada bunuh diri.
Isi dari kota tersebut adalah sempak dengan gambar yang unyu banget, monster-monster cabi. Sebenernya saya suka sih tapi saya gak butuh, udah terlalu banyak sempak di lemari saya. Dan kampretnya dengan riang ayah saya berkata.
"Sempaknya dikumpulin dulu nak, kalok udah banyak baru dijahit dijadiin celana"
Memang aneh keluarga saya. Seperti saya.

Lalu ayah saya sangat munafik terhadap seleranya. Dulu seleranya adalah sambel ijo sekarang berubah menjadi sambel korek dengan korek yang asli. Kampret apaan ini. Saya akan kembali pada topik dangdut tetapi sebagai dangdut yang mempengaruhi pemikiran ayah saya.

Ayah saya menolak keras dangdut. Bahkan katanya dia menikah dengan ibu dan baru tahu kalok ibu suka dangdut setelah ibu hamil. Dan ayah saya mau cerain ibu tapi ayah saya takut kalok udah cerai malah gak punya istri. Dapet ibu aja udah beruntung katanya. Dia selalu mengalihkan minat anak-anaknya untuk tidak menyukai musik dangdut karena ayah saya membenci roma irama. Sebabnya ayah saya hanya memiliki kumis sedangkan roma irama memiliki brewok. Ayah saya kalah maco dengan roma irama.

Waktu itu di siang hari dihari minggu yang cukup panas di luar dan dapat membuat hitam kulit dalam jangka waktu satu menit dan bahkan bisa membuat kita terbakar jika diluar lebih dari satu jam. Saya dengan mata sayup-sayup dikamar tamu dan ayah saya disebelah sambil lihat TV. Ayah saya melihat saya yang agak ngantuk. Sebelum kejadian itu ibu saya habis dengerin lagu iis dahlia satu album dan saya pun biasa saja. Entah kenapa saya tertidur diatas kursi yang saya duduki dengan botol air mineral dingin yang saya pegang erat-erat kayak balonku ada lima. Tiba-tiba terdengar suara lagu dangdut. Sebelumnya lagi ibu saya pergi keklewer buat dagang baju setelah dengerin lagu iis dahlia yang satu album itu. Kan terdengar suara dangdut dikamar tengah. Saya terbangun melihat jam menujiukan pukul 1 siang sedangkan ibu saya pergi pukul 12 siang, biasanya pulang ibu saya pada sore hari. Saya agak curiga. Saya melihat samping saya ternyata ada alien dengan tampang menyeramkan serta mulut penuh busa dan keluar lidah-lidah yang warna belang. Tentang alien itu hanya kebohongan. Saya melihat samping saya dan ayah saya tidak ada dan membiarkan TVnya masih menyala.

Dengan tekat dan sedikit tenaga yang tersisah saya pun membangunkan diri dari kursi tersebut dan melihat siapa yang menylakan tape dengan lagu dangdut kesukaan ibu saya. Apa jangan-jangan ada alien dirumah saya dan dia juga suka dengan lagu dangdut dari Indonesia ini?. Untuk mengatasi rasa curiga saya, sayapun menuju kamar tengah dan membuka pintunya dengan pelan-pelan. Dan yang terjadi adalah. Ayah saya dengan baju oblong dan celana kolor dengan kumis yang lebat yang memiliki fungsi sebagai filter dalam sirkulasi pernafasannya berjoget sambil bernyanyi ala penonton konser dangdut yang selalu memakai hlem saat menonton.
"Haa? ini bener ayah aku?".
"Haa? kamu siapa?"
"Aku anakmu"
"Jangan bilang ibu kalok ayah nyanyi dangdut"
"Ayah munafik katanya gak suka dangdut" dengan wajah saya yang berkurang kepercayaannya terhadap ayah saya.
"Ayah gak sengaja, mungkin tadi ayah sedang kerasukan"
"Kerasukan apa? jin botol yang mirip roma irama?"
"Mungkin nak"
"Yaampun, ayah itu harusnya konsisten kayak aku, egak suka dangdut ya tetep gak suka, jangan labil"
"Yaudah ayah matiin" sambil matiin tape lalu pergi keatas buat berjemur kayak bule.
Saya pun iseng pengen dengerin lagu dangdut juga. Yaudah saya pun mengecek keadaan ayah saya. Saya perlahan menaiki tangga. Disana ada ular raksasa lalu saya ditolong oleh arjuna, njirr melenceng. Saya mengintip diteras atas dan ternyata ayah saya lagi tiduran. Yaudah saya pun langsung bergegas menuju kamar tengah dan menyalakan lagu iis dahlia dengan volume kecil. Dengan perlahan saya mendengar dan dengan perlahan juga saya tertidur dengan alunan gendang dan suling yang syahdu.

Tiba-tiba saya tersadar dan terbangun oleh keadaan. Dengan mata riyip-riyip(gak tau itu bahasa apa). Saya mengucek mata saya dan ternyata. Ayah saya udah disamping saya sambil joget-joget dan setelah tau kalok saya terbangun. Ayah saya mengepalkan tangannya. Saya tidak tau apakah saya akan dipukul ayah saya lalu akan terjadi KDRT yang sangat romantis atau apalah. Ternyata tangan kanannya mengepal dan tangan kirinya meraih tangan kanan aku dan dia berkata.
"Ayo kita joget nak, kalok ibu pulang tapenya dimatiin lalu kita pura-pura tidur"

Sejak kejadian itulah ternyata saya dan ayah saya mempunyai sedikit potongan tentang penikmat dangdut. Kami berjanji tidak akan bilang bahkan memperlihatkan bahwa kami pecinta dangdut sementarsa sih kepada ibu saya. Tetapi saya hanya bisa berdangdut dengan ayah saat ibu pergi kepasar klewer.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar