Sabtu, 03 Mei 2014

Perumpamaan Timur dan Barat

Tuntutan dalam menjaling hubungan adalah sama. Seperti kata Mario Teguh "kalok banyak yang sama, kenapa harus memilih yang berbeda". Terus ada lagi "Aku, Kamu, Satu". Egak tau apa tujuan motivator yang sok tau tentang cinta. Mereka hanya meracuni pemikiran anak-anak remaja pada saat ini. Asal kalian tau wahai para motivator (walaupun gak mungkin ada motivator yang mbaca sih hehe) perkataan kalian yang didengerin oleh remaja masa kini itu egak ada yang dilaksanakan, kebanyakan mereka hanya mengcopy lalu di paste pada status di jejaringan sosial. Biar terlihat sok motivator gitu, contohnya saya sendiri. Anjir.



Saya punya pengalaman tentang "beda". Saya punya mantan yang berbeda agama dan berbeda jenis kelamin, itu pasti. Memang pada awalnya sangat sulit mempertahanin hubungan yang dikarenakan perbedaan. Kebanyakan orang yang pacaran berbeda relatif lama dari pada mereka yang pacaran karena si cewek kasian sama cowoknya, halah. Tapi benar, rata-rata mereka yang pacaran berbeda agama dan sudah berusaha mengusahakan si pasangan agar diterima didalam sisi keluarganya bertahan selama satu sampai dua tahun. Entah mengapa mereka yang beda selalu lebih banyak halangan.

Tetapi berbeda itu indah. Bayangkan jika hanya ada mawar yang warna merah, kasian kan bagi mereka yang suka mawar warna putih. Apaan ini. Iya banyak sekali orang-orang yang mengeluh karena berbeda dan tidak pernah bersyukur atas perbedaan.

Waktu SMA kelas dua saya dideketin ama cewek kelas lain. Bukannya sombong. Tapi saya gak tau mengapa dia ndeketin manusia seperti saya. Apa karena dia adalah suruhan FBI buat melestarikan manusia aneh dan langkah seperti saya dengan tailalat dibawah mulut saya. Tapi dia tertarik saya karena saya lawan jenisnya. Atau mungkin saya lebih mirip blasteran antara dinosaurus dengan alien sehingga tercipta mahkluk seperti saya ini. Masih menjadi misteri.

Biasalah, durasi jomblo saya sangat lama daripada durasi pacaran saya. Dia deketin saya pas saya lagi jomblo gitu. Pertama kami deketnya lewat temen saya, ya dikenalin lah. Terus lewat facebook sambil ngepoin fotonya dan foto mantan sih, njirrr. Padahal satu sekolahan tapi kami gak saling kenal, mungkin karena saya sering maen diruang BP dari pada di kantin karena terlalu banyak bolos sekolah dan berambut panjang, serta sering pakek sepatu dengan tali sepatu warna-warni. Saya sangat alay dan saya menyadarinya, sungguh suram masa SMA saya.

Oh iya kenapa kami tidak saling kenal karena dulu yang murid beragama nasrani diujung pojok ruangan sekolah dan sangat jarang bertemu dan menyapa murid kelas pinggiran, wesss, makanya kami tidak saling mengenal pada kelas satu SMA. Aneh sekali ya.

Saya pun diajak maen sama dia gitu pergi nemenin dia ke ulang tahun temennya. Disitu lah saya terlihat berbeda, saya orangnya yang cupu dan basi disampingkan sama orang-orang glamor, jelas jika kami berbeda. Pas di ulang tahun itu cewek-ceweknya pada pakai dress wah dan yang cowok pada pakai baju hem-heman, sedangkan saya hanya pakai kaos polos dan celana robek dibagian lutut dan memakai sendal jepit, sendal jepitnya gak main-main, saya pakai sendal jepit dengan merek swalo dengan warna ijo. Saya sih cuek, kalok kata anak-anak sekarang. Soalnya kalok beli sepatu buat maen gak punya uang, njirr.

Disana mereka saling foto berfoto. Dengan kenarsisan mereka. Yang cewek memakai gaya dengan lekukan tubuh disetiap sendi yang mereka punya sampai-sampai tubuhnya bisa dimasukin kedalam ransel. Dan yang cowok dengan serentak mengeluarkan kaca mata hitam di kantongnya biar terlihat maco gitu. Dan yang saya lakukan adalah mengeluarkan sapu tangan, karena waktu itu saya pilek, hiss. Setelah kejadian itu kami pun pulang. Dan tubuhnya pun bengkok-bengkok karena terlalu bersemangat saat berfoto.

Didalam perjalanan dia pun memeluk saya. Entah kenapa saya agak merasa gimana gitu. Apakah dia beneran suka sama saya gitu. Saya jomblo dan saya terhina. Jika saya jadian sama dia itu masih bisa di tolerin. Yaudah akhirnya kami pun jadian setelah perjalanan itu. Saya tau, dia dengan saya berbeda agama dan kelamin. Saya agak merasa aneh gitu jadian sama orang yang berbeda. Beda?.

Di awal bulan kami pacaran dengan baik dan romantisnya. Pergi kekantin bersama terus pas sampai BP saya dipanggil karena rambut saya gondrong. Romantisnya lagi saya jadi tukang ojeknya, egak sama sekali romantis sih. Pas lebih dari tiga bulan saya pun ditanyain sama orang tua saya, ya terutama ibu sih. Wanita yang selalu kepo terhadap keberlangsungan hidup anaknya.
"Angga kamu pacaran ya? kok sering bawa hp terus telfonan di atas genteng?".
"Iya buk".
"Besok pacarmu bawa kesini, ibu mau lihat selayak apakah dirinya"
Duuh. Pacar saya sering pakai kalung rosario dan sangat jelas kalok kami berbeda. Sempat punya pikiran suruh dia pakek jilbab terus numbuhin jengot sambil naik unta, tapi itu adalah hal yang bego jika terjadi. Yasudah akhirnya saya bawa dia kerumah saya. Respek ibu saya adalah "Putusin dia karena dia berbeda". Iya sebenernya saya juga egak begitu suka sih sama dia. Tapi kenapa alasannya harus karena beda?. Mungkin ibu saya pengen anaknya punya pasangan yang sama. Sama-sama imannya dan sama-sama kelaminnya. Sudahlah.

Setelah beberapa pertimbangan saya mau punya niatan buat mutusin dia gitu. Pas ketemuan sama dia saya cerita tentang tanggapan ibu saya kepada dia, dan yang terjadi dia meluk saya sambil menangis. Saya kasian dan saya egak tega. Tapi entah mengapa saya berusaha ndeketin antara ibu dan dia. Selama enam bulan kami pun bisa deket antara ibu saya dengan dia. Dan mulailah timbul aturan darinya. Dia menjadi posesif. Setiap didalam kelas saya bahagia bisa bermain, becanda, bahkan saling bunuh dengan teman sesama den lain jenis kelamin. Tetapi setelah bel istirahat dan keluar kelas semua sudut pandangan pun menjadi gelap, hanya ada gambaran dirinya.
"Sayang kemari"
"Iya sayang aku kesana" dengan wajah pucat merunduk menghadap tanah. Lesu.

Saya semakin melemas dan dilumpuhkan kebebasan saya. Wahh bahasaku. Saya pun dengan tekat dengan usia pacaran saya yang sudah setahun buat mutusin dirinya, entah resiko apapun yang akan terjadi. Wisssss. Saya menyamperin dia di depan kelasnya dengan mata saya yang membara lalu menatap matanya, lalu matanya pun saya cungkil keluar saya air keras matanya terus saya kasih lilin dan wala! menjadi gantungn kunci dengan mata asli, kampret apaan ini!!. Yaudah saya mau bicara empat mata gitu buat mutusin dia, tapi sumpah susah banget. Pas saya bilang kita putus, dia egak mau dan menangis. Memang tangis adalah senjata yang sangat mujarap bagi cewek. Entah kenapa habis itu dia jadi agak enakan gitu, lebih nyaman dan egak begitu posesif. Tapi sayang itu hanya berlaku seminggunan. Saya deket sama cewek padahal ngbrol biasa dianya marah, saya nganterin kakak perempuanku marah halah. Apakah dia ingin jika saya homo, tentu tidak soalnya saya pacaran sama dia dan dia memakai rok pas sekolah, positif kalok dia itu cewek.

Semakin lama semakin tidak menahan saya pun dengan tegas untuk memutuskannya. Laki-laki akan keluar kebrengsekannya jika dia sudah kehabisan cara buat bagaimana untuk mutusin tuh cewek. Saya bilang bahwa kita beda dan kita gak mungkin bersatu. Terus dia malah menjawab kalok dia mau pindah agar sama dengan saya, iya sama agamanya. Saya pun bilang dengan tegasnya selayaknya Dewi Persik lagi manggung, rancu njir. Kalok agama itu yang masuk kehati kita bukan diri kita yang masuk keagama tersebut. Intinya saya itu brengsek dengan membuat alasan perbedaan sebagai cara buat mutusin orang.

Tapi saya mengakui kesalahan saya. Namanya juga remaja sangat sulit jika pacaran itu dipertahanin sampai lama. Dan resiko pacaran itu adalah putus, tapi topiknya bukan masalah putus tetapi masalah perbedaan. Saya salah dan saya mengakuinya. Bukan salah karena memutuskannya tetapi salah memberi alasan "beda" untuk putus.

Banyak orang bilang jika beda itu hina. Banyak kata orang tak sama maka tak selamanya. Banyak lisan orang berkata bahwa satu itu indah. Tapi menurut saya itu salah. Beda adalah variasi dalam kehidupan sehingga kita tidak bosan terhadap keadaan. Saya mengumpamakan timur dan barat, mereka berbeda si timur berada di kanan dan si barat berada di kiri dalam mata angin. Tapi jika kalian tau, mereka itu satu jika kita mengitarinya. Beda? Satu? itu sama saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar